Oleh Sabila E
Pernah nggak sih kamu ngerasa hidupmu baik-baik aja sampai akhirnya kamu memutuskan untuk bergaya hidup sehat dengan jalan beli satu barang baru misalnya, sepatu lari terbaru yang udah lama kamu idam-idamkan?
Awalnya cuma pengin nambah aksesoris biar tampil sedikit beda. Tapi begitu sepatu tersebut digunakan untuk lari atau ikut event, kamu mulai ngerasa outfit yang kamu pakai kok jadi nggak cocok, terkesan jadul, dan gak match dengan sepatu barunya. Akhirnya kamu tergoda beli topi, headband, celana khusus baru, kaos khusus lari, kaos kaki khusus lari bahkan sampai berani pembiayaan ke BMT untuk sebuah jam tangan Garmin atau Coros yang harganya jutaan. Padahal gaji kalian belum gede-gede amat.
Dan tanpa sadar, kamu sudah masuk ke dalam pusaran Efek Diderot — fenomena psikologis yang bikin kita terus-menerus ingin membeli barang tambahan karena merasa barang lama sudah nggak cocok dengan yang baru.
Asal-Usul Efek Diderot
Istilah ini berasal dari seorang filsuf dan penulis asal Prancis bernama Denis Diderot, yang hidup di abad ke-18. Ia terkenal sebagai salah satu tokoh besar di balik Encyclopédie, ensiklopedia pertama yang mencoba mengumpulkan semua pengetahuan manusia pada masanya. Tapi, siapa sangka, konsep yang melekat dengan namanya justru lahir bukan dari karyanya yang ilmiah, melainkan dari curhatan pribadinya tentang jubah.
Suatu hari, Diderot menerima hadiah berupa jubah merah mewah dari seorang temannya. Jubah itu begitu indah dan mahal, membuatnya merasa seperti bangsawan. Tapi setelah mengenakan jubah tersebut, ia sadar bahwa furnitur, meja, kursi, dan karpet di rumahnya mendadak terlihat murahan. Semuanya tampak tidak sepadan dengan jubah barunya.
Akhirnya, Diderot pun mulai mengganti barang-barang di rumahnya agar sesuai dengan kesan “mahal” dari jubah itu. Ia beli meja baru, kursi baru, dan bahkan dekorasi baru. Sayangnya, di akhir cerita, ia justru menyadari bahwa semua pembelian itu hanya membawanya ke dalam jerat konsumsi berlebihan dan membuatnya kehilangan ketenangan. Dari situlah lahir istilah yang kini kita kenal sebagai Efek Diderot — sebuah paradoks bahwa satu barang baru bisa memicu kebutuhan baru yang tak ada habisnya.
Efek Diderot di Dunia Anak Muda
Kalau dipikir-pikir, kisah Diderot itu relate banget sama kehidupan anak muda zaman sekarang. Bedanya, kalau dulu masalahnya jubah, sekarang masalahnya bisa HP, outfit, gadget, bahkan setup meja kerja.
Contohnya begini: kamu beli smartphone baru yang kameranya super jernih. Awalnya cuma buat upgrade dari yang lama. Tapi setelah beli, kamu sadar feed Instagram kamu nggak “senada” dengan kualitas kameranya. Akhirnya kamu beli tripod biar hasilnya lebih stabil, lalu ring light biar pencahayaan makin estetik, terus casing biar matching, lalu outfit baru biar foto makin keren. Ujungnya? Kamu nggak cuma keluar uang buat HP, tapi juga buat semua “perintilan” yang mengikutinya.
Atau contoh lain, kamu nonton konten room makeover di TikTok. Melihat kamar orang dengan aesthetic minimalis warna beige, kamu langsung pengin juga. Mulai deh beli seprai baru, lampu tidur kekinian, meja kayu, tanaman plastik, dreamcatcher, bahkan lilin aromaterapi. Padahal sebelumnya kamu udah nyaman-nyaman aja sama kamar lamamu. Tapi karena satu hal baru (katakanlah meja kerja), semuanya jadi harus berubah biar senada.
Efek Diderot juga sering muncul dalam gaya hidup digital anak muda. Misalnya, kamu baru langganan gym. Tujuannya mulia: biar hidup sehat dan agar massa otot terjaga sampai usia senja. Tapi begitu masuk ke dunia itu, kamu mulai ngerasa butuh sepatu olahraga baru, pakaian gym yang trendi, smartwatch harga jutaan, botol minum khusus, sampai earphone nirkabel. Akhirnya, biaya gaya hidup “sehat” malah bikin dompet sakit. 😅
Intinya, satu barang baru sering kali memicu keinginan untuk membangun “identitas baru” — kita ingin terlihat sepadan, ingin tampil lebih baik, ingin sesuai dengan citra yang kita bentuk di kepala kita sendiri.
Efek Diderot dan “Budaya Upgrade”
Kalau dulu orang hidup dengan prinsip “yang penting fungsional”, sekarang budaya konsumsi kita udah bergeser jadi “yang penting keren dan estetik”. Media sosial memperkuat efek ini. Setiap kali kita melihat konten unboxing, haul, atau upgrade setup, otak kita secara halus membandingkan diri kita dengan mereka.
Kita mulai berpikir, “Wah, laptop aku kok udah jadul ya?”, “Meja kerjaku kok nggak seapik itu?”, atau “Sepatuku kayaknya udah out of style deh.” Dan dari pikiran itu, muncullah dorongan untuk membeli sesuatu yang baru.
Masalahnya, loop ini nggak pernah berhenti. Setelah beli barang baru, lama-lama kita akan terbiasa, lalu muncul keinginan lagi untuk upgrade ke yang lebih bagus. Akhirnya, kita terus berlari tanpa garis finish.
Di sinilah efek negatif Diderot terasa paling kuat: kita kehilangan rasa syukur dan cukup**.** Hidup terasa seperti lomba pamer barang dan status, bukan lagi tentang menikmati fungsi dan kenyamanan.
Cara Jitu Agar Tidak Terjebak Efek Diderot
Nah, kabar baiknya, efek Diderot bukan sesuatu yang nggak bisa dihindari. Kita cuma perlu sedikit kesadaran dan strategi agar nggak terjebak dalam pusaran konsumtif yang melelahkan. Berikut beberapa tips jitu yang bisa kamu coba:
1. Sadari Polanya.
Setiap kali kamu ingin membeli sesuatu, coba perhatikan: apakah kamu benar-benar butuh barang itu, atau cuma ingin agar barang lamamu “terlihat cocok”? Kesadaran ini adalah langkah pertama buat keluar dari jebakan Diderot.
2. Gunakan Prinsip 24 Jam.
Saat kamu tergoda membeli sesuatu yang sebenarnya nggak mendesak, tunda dulu selama 24 jam. Kalau setelah sehari kamu masih merasa benar-benar butuh, barulah beli. Tapi kalau nggak, berarti itu cuma dorongan sesaat.
3. Hargai Barang Lama.
Barang lama bukan berarti jelek. Kadang malah punya nilai sentimental dan cerita tersendiri. Coba ubah cara pandangmu — bukan “barang lama”, tapi “barang yang setia menemani perjalanan hidupmu.”
4. Batasi Eksposur Konsumsi Digital.
Unfollow akun-akun yang bikin kamu terus merasa kurang. Ganti dengan konten yang menginspirasi, bukan yang memicu hasrat belanja impulsif.
5. Fokus ke Nilai, Bukan Gengsi.
Beli barang karena fungsinya, bukan karena ingin terlihat keren. Kadang barang sederhana tapi berguna lebih membahagiakan daripada yang mahal tapi cuma buat dipamerkan.
6. Bangun Gaya Hidup Minimalis (Versi Kamu Sendiri).
Minimalis bukan berarti punya sedikit barang, tapi punya barang yang benar-benar kamu butuhkan dan kamu cintai. Dengan begitu, setiap pembelian punya makna.
Efek Diderot sebenarnya bukan musuh — dia hanya pengingat bahwa kita, manusia moderen, mudah terjebak dalam ilusi bahwa kebahagiaan bisa dibeli. Kita sering lupa bahwa barang-barang baru memang bisa memberi sensasi bahagia, tapi hanya sesaat. Setelah itu, kita kembali mencari “kesenangan” lain dalam bentuk pembelian berikutnya.
Denis Diderot sendiri menyesal karena jubah merahnya justru membuat hidupnya lebih ribet. Ia menulis, “Aku adalah budak dari jubahku yang baru.” Kalimat itu terasa relevan banget hari ini. Betapa sering kita merasa jadi budak dari benda yang seharusnya melayani kita.
Jadi, sebelum kamu checkout keranjang belanja atau tergoda tren terbaru, tanya dulu ke diri sendiri: “Apakah ini benar-benar aku butuhkan, atau aku cuma sedang terpengaruh efek Diderot?”
Karena pada akhirnya, bukan seberapa banyak yang kamu punya yang menentukan kebahagiaanmu — tapi seberapa pandai kamu merasa bersyukur dan cukup. Dan merasa bersyukur, itu selalu terlihat keren di setiap zaman.










Leave a Reply
View Comments