Kita pasti sering mendengar atau bahkan kita sendiri yang mengatakan kalimat-kalimat seperti, “Ah, dunya ini cuma tempat singgah,” atau “Jangan terlalu banyak mikirin dunya, nanti jauh dari agama.”
Niatnya baik, yaitu mengingatkan tentang fokus akhirat. Tapi, tanpa sadar, pemahaman kita tentang dunia (dunya) ini seringkali terdistorsi. Kita seolah-olah menganggap dunia adalah tempat yang jelek, penuh kutukan, dan harus kita benci agar bisa dekat dengan Tuhan.
Padahal, pemahaman ini bukanlah pemahaman asli dari Al Quran dan Sunnah. Kita perlu melakukan detox pemikiran agar bisa memahami Islam secara seimbang: Deen bersama Dunya, bukan Deen atau Dunya.
Dunia Ini Bukan Kutukan, Tapi Preview Surga
Kita harus jujur, ide bahwa dunia ini adalah tempat hukuman berasal dari konsep “dosa asal” yang dipahami oleh beberapa tradisi agama lain. Mereka meyakini bahwa setelah Nabi Adam melakukan kesalahan, beliau dan Hawa dikutuk, dan bumi adalah tempat penderitaan akibat kutukan itu. Semua manusia pun lahir membawa beban dosa.
Namun, Al Quran dan hadis Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan sebaliknya.
- Kita Lahir Suci (Fitrah): Setiap kita lahir dalam keadaan fitrah, suci, dan tidak membawa beban dosa siapa pun.
- Dunia Diciptakan Indah: Jauh sebelum kisah Adam turun ke bumi diceritakan, Allah sudah berfirman, “Kami sungguh telah menempatkan kamu di bumi, dan di sana Kami sediakan (sumber) penghidupan untukmu. Namun, sedikit sekali kamu bersyukur.” (QS. Al-A’raf: 10).
Ayat ini menegaskan: Dunia sudah stabil dan sudah dilengkapi dengan segala sumber penghidupan yang kita butuhkan untuk hidup yang baik. Apakah ini terdengar seperti penjara? Tentu tidak.
Bahkan, saat Allah menggambarkan Jannah (surga), Dia menggunakan bahasa yang kita kenal dari dunia ini: sungai, buah-buahan, rumah yang indah. Mengapa? Karena dunia ini adalah preview atau cuplikan awal dari kenikmatan akhirat. Kalau dunia yang sementara ini saja sudah indah, bayangkan betapa jauh lebih menakjubkannya surga yang abadi.
Siapa yang Berani Mengharamkan Keindahan Allah?
Inilah pertanyaan sentral dari Surah Al-A’raf, Ayat 32:
“Katakanlah (Muhammad), ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan (keindahan) dari Allah yang telah disediakan-Nya untuk hamba-hamba-Nya…?'”
Ayat ini adalah tamparan keras bagi siapa pun yang bersikap ekstrem dalam menjauhi dunia.
Kita seringkali memandang keindahan materi (kekayaan, karier, kesehatan, pakaian yang bagus, makanan enak) sebagai fitnah atau musuh. Padahal, Allah mengatakan, semua keindahan itu adalah milik-Nya yang dikeluarkan untuk hamba-hamba-Nya.
Semua keindahan yang kita lihat di dunia—langit yang megah, peluang bisnis, anak-anak yang lucu, rezeki yang lancar—sesungguhnya adalah pengingat (tazkirah) betapa indahnya Allah itu sendiri. Segala yang indah di dunya ini adalah pantulan kecil dari keindahan Sang Pencipta.
Dan dengarkan baik-baik, Allah menegaskan bahwa semua keindahan dan hal baik ini, di dunia ini, disediakan untuk orang-orang yang beriman (walaupun non-mukmin juga menikmatinya, karena itu adalah izin-Nya). Ini harusnya membuat kita, sebagai orang beriman, merasa spesial dan semakin bersyukur, bukan malah menjauhinya.
Mizan: Keseimbangan yang Hilang
Lalu, kapan dunya itu berubah menjadi fitnah (godaan)?
Dunia menjadi fitnah bukan karena bendanya, melainkan ketika harta dan kesuksesan itu membuat kita sombong dan lupa bersyukur, bukan semakin bersyukur dan berhati-hati.
Dalam sejarah, ada pemikiran ekstrem dari tradisi lain yang mengajarkan bahwa untuk dekat dengan Tuhan, seseorang harus menderita, tidak menikah, memakai pakaian tidak nyaman, dan menjauhi semua kenikmatan duniawi (monastisisme).
Ajaran Islam menolak keras ekstremisme ini.
Lihatlah teladan terbaik kita, Nabi Muhammad ﷺ. Beliau adalah manusia yang paling spiritual, paling dekat dengan Allah. Namun, beliau:
- Menikah dan memiliki keluarga.
- Menyukai makanan tertentu dan pakaian yang bagus (tentu dalam batas kesederhanaan).
- Aktif dalam masalah sosial, ekonomi (berdagang), dan politik umat.
Nabi diberikan Mizan (keseimbangan). Kita diperintahkan untuk menjalani kehidupan terbaik di dunia dan mempersiapkan yang terbaik untuk akhirat. Keduanya harus berjalan beriringan.
Bukti paling nyata dari mizan ini ada pada perintah Shalat Jumat:
“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak…” (QS. Al-Jumu’ah: 10).
Setelah ibadah spiritual paling agung selesai, perintah Allah selanjutnya adalah: pergi dan cari rezeki! Pergi berbisnis, bekerja, belajar. Mencari nafkah dan membangun karier adalah bagian dari mencari karunia (Fadhlu) Allah. Dan yang terpenting: sambil melakukan semua itu, kita harus mengingat Allah sebanyak-banyaknya.
Bekerja tidak seharusnya menjauhkan kita dari Allah. Justru, bekerja harus menjadi jalan untuk lebih dekat dan lebih bersyukur kepada-Nya.
Hidup dengan Misi dan Deadline
Lalu, bagaimana cara praktis agar dunya tidak menjadi distraksi?
Distraksi hanya terjadi ketika kita tidak memiliki misi yang jelas.
Bayangkan, kalau kita punya ujian besar 5 jam lagi, kita pasti tidak akan terdistraksi oleh scroll media sosial. Kita akan fokus.
Islam mengajarkan kita untuk hidup dengan misi. Tugas kita adalah menetapkan tujuan yang jelas (objectives) untuk Deen kita (misalnya target hafalan Al Quran, target jumlah Shalat Sunnah) dan tujuan untuk Dunya kita (target karier, kesehatan, pendidikan) — dan yang terpenting, beri deadline pada tujuan-tujuan itu.
Ketika hidup kita penuh dengan misi dan tenggat waktu yang jelas, otomatis kita akan mendisiplinkan diri. Kita tidak punya waktu untuk hal-hal yang tidak penting. Kita akan menjalani kehidupan yang terencana dan bermakna.
Jadi, mari kita hapus pemahaman keliru bahwa kita harus memilih antara agama dan dunia. Mari kita restorasi pemahaman yang benar, yaitu bahwa kita harus membawa agama ke dalam dunia kita, hidup dalam keseimbangan, dan menjalani kehidupan yang terbaik di sini, sebagai bekal untuk kehidupan yang terbaik di sana.










Leave a Reply
View Comments