oleh Fitri Utami
Di hadapan cermin, kucari wajahku namun yang kutemukan hanyalah diam yang panjang, yang menegur tanpa suara.
Bukan sekadar pantulan, tapi kenangan yang membatu; tentang luka yang kututup bedak, tentang lelah yang kusimpan di balik senyum yang pura-pura kuat.
Sepertinya cermin tahu aku sering menjadi lawan bagi diriku sendiri.
Ia mengembalikan yang kusembunyikan, retak halus di sudut mata, gelisah yang tak sempat kutulis, doa-doa yang batal di tengah ragu.
Aku terdiam. Dalam pantulan itu ada aku yang menua oleh cemas, namun juga aku yang masih ingin hidup dengan hati yang lebih lembut.
Pelan-pelan kucoba menatap tanpa menghakimi sebab mungkin, yang harus kuselamatkan bukan bayangan di kaca, melainkan aku yang berdiri di sini










Leave a Reply
View Comments