Generus Indonesia
Belajar Ilmu "Cut Off" dari Rasulullah SAW. Gambar: Generus

Belajar Ilmu “Cut Off” dari Rasulullah SAW: Sebuah Seni Untuk Menjaga Agar Mental Tetap Waras

Oleh Sabila Esfandiar

Pernah gak kamu berada dalam sebuah posisi—entah itu pertemanan, keluarga, atau lingkungan kerja—yang rasanya kayak toksik sekaligus black hole? Menyedot energi, bikin cemas tiap kali ada notifikasi masuk, dan pelan-pelan menggerus kewarasanmu. Kalau kamu pernah merasakannya, selamat, kamu butuh sebuah tombol bernama “Cut Off.”

Banyak orang takut melakukan cut off karena nggak mau dibilang jahat atau “mutus silaturahmi”. Padahal, cut off itu beda dengan memusuhi. Ini bukan soal “aku benci kamu,” tapi lebih ke “aku sayang diriku sendiri, jadi aku harus menjauh dari radiasimu.”

Dalam psikologi, ini disebut sebagai penetapan boundaries (batasan). Kita ambil sebuah perumpamaan deh, bayangkan kamu punya sebuah rumah namun tanpa pagar di mana semua orang bisa masuk, mengacak-acak sofa, dan buang sampah sembarangan. Nah, Cut off adalah cara kita memasang pagar tersebut. Kita tidak membakar rumah orang lain, kita hanya mengunci pintu rumah kita sendiri agar tidak semua konflik bisa masuk dan merusak interior mental kita.

Generasi sekarang sering banget dihantui label sebagai “anti-sosial” atau “mental tempe” kalau berani menarik diri. Tapi jujur deh, apa gunanya bertahan di pusaran konflik cuma demi dibilang “kuat” atau “asik”, kalau ujung-ujungnya tiap malam kita nangis sendirian si pojokan dan hidup jadi nggak produktif?

Justru, orang yang berani melakukan cut off adalah orang yang paling berani. Kenapa? Karena dia berani mengambil risiko untuk tidak disukai demi kesehatan mentalnya. Itu butuh nyali besar, bukan mental lemah. Lebih baik dibilang baperan daripada hilang kewarasan.

Kalau ada yang bilang cut off itu nggak Isami, mungkin mereka perlu membaca kembali kisah Wahsyi bin Harb. Wahsyi adalah sosok yang membunuh paman tercinta Nabi, Hamzah bin Abdul Muthalib, di Perang Uhud. Setelah Wahsyi masuk Islam, Nabi Muhammad SAW memang memaafkannya dengan tulus—karena Islam menghapus dosa masa lalu.

Tapi, ada sisi kemanusiaan Nabi yang sangat menyentuh di sini. Nabi meminta Wahsyi agar tidak terlalu sering muncul di hadapannya. Kenapa? Karena melihat Wahsyi membuat Nabi teringat kembali pada luka lama dan kesedihan atas gugurnya sang paman, Hamzah. Analisisnya adalah bahwa Nabi tidak membenci Wahsyi, tidak juga mencabut status keislamannya. Beliau hanya menciptakan jarak untuk menjaga kestabilan emosinya sendiri. Ini adalah validasi paling nyata bahwa kita boleh menjaga jarak dengan seseorang yang memicu trauma atau kesedihan kita, tanpa harus menaruh dendam di hati.

Cut off adalah juru selamat. Dengan menjaga jarak dari sumber masalah, kita memberikan ruang bagi jiwa untuk bernapas, berpikir jernih, dan akhirnya bisa kembali melihat hidup dengan kacamata positif. Hidup ini terlalu singkat kalau cuma habis buat ngurusin drama yang nggak ada ujungnya.

Ingat, kamu nggak punya kewajiban untuk “selalu ada” bagi orang-orang yang justru membuatmu merasa “tiada”. Jadi, jangan takut untuk menarik diri. Menghilang sejenak untuk menyelamatkan diri sendiri itu bukan dosa.