Oleh Nabila Kartika Luthfa
Hai Sobat Generus Indonesia! Bagi sebagian besar dari kita, awal tahun sering kali terasa seperti dipaksa menekan tombol restart. Padahal, hidup tidak bekerja seperti itu. Kita tidak benar-benar mulai dari nol, tapi kita mulai dari pengalaman masa lalu.
Jika kamu merasa bingung arah menetukan tujuan apa yang mau dicapai tahun ini, itu tandanya kamu belum selesai “membaca” apa yang terjadi di tahun lalu. Sebelum sibuk membuat daftar keinginan, mari kita lakukan audit perjalanan untuk memetakan peta tempur yang lebih realistis.
Pertama, Sobat Gen harus membaca ulang perjalanan yang sudah kamu lalui tahun lalu. Coba bedah secara jujur beberapa contoh pertanyaan ini: Apa saja hal yang berhasil kamu selesaikan meski kamu sedang tidak mood? Apakah ada kegagalan yang terus berulang? Siapa yang memberimu peluang dan siapa yang hanya datang saat butuh?
Beberapa pertanyaan itu akan menunjukkan kekuatan disiplinmu, mempelajari kesalahanmu dan menyaring lingkaran pertemanan yang lebih sehat. Hal ini penting kamu lakukan sebagai refleksi diri terhadap pengalaman yang telah berlalu.
Kedua, memetakan tujuan dengan “kenapa” bukan “apa”. Setelah melakukan refleksi pengalaman tahun lalu, coba untuk menyusun tujuan dengan memetakannya melalui penggantian kata tanya “apa tujuan tahun ini?” menjadi “kenapa tujuan tahun ini itu?”
Ketiga, gunakan strategi micro planning. Banyak resolusi gagal karena terlalu mengawang-awang. “Ingin hidup sehat” itu abstrak. “Ingin punya tabungan 10 juta” itu berat jika tidak ada planning yang tepat. Maka perlu untuk tentukan tujuan besar terlebih dahulu baru tarik mundur bagi target tiap bulan dan pecah lagi menjadi kebiasaan harian.
Perlu diingat ya Sobat Gen, kamu tidak butuh rencana yang sempurna, tapi kamu butuh rencana yang bisa dieksekusi hari ini. Pengulangan yang sesuai target dapat menghasilkan tercapainya target besarmu.
Keempat, Fleksibilitas adalah kunci. Dunia bergerak sangat cepat (AI berkembang, tren kerja berubah, ekonomi fluktuatif). Jangan membuat rencana yang kaku. Jadikan perencanaanmu sebagai kompas, bukan rel kereta api. Kamu boleh berbelok, boleh berhenti sejenak, asalkan arah jarum kompasmu tetap tertuju pada visi yang sudah kamu petakan.
Selain teknis perencanaan, jangan lupakan aspek kesehatan mental dan apresiasi diri sebagai bahan bakar utama perjalananmu. Di tengah ambisi mengejar target-target besar, Sobat Gen harus tetap memberikan ruang bagi diri sendiri untuk bernapas dan merayakan kemenangan-kemenangan kecil yang berhasil diraih di setiap fasenya.
Ingatlah bahwa kesuksesan bukan hanya soal angka di rekening atau jabatan di CV, melainkan tentang seberapa tangguh kamu bangkit kembali setiap kali rencana tidak berjalan sesuai ekspektasi. Menjaga keseimbangan antara ambisi dan ketenangan batin akan membuat perjalananmu di tahun 2026 ini terasa lebih bermakna dan tidak melelahkan.
Terakhir, mulailah langkah pertamamu sekarang juga, tanpa harus menunggu motivasi besar datang menghampiri. Keberanian untuk memulai dari hal kecil meski dengan rasa ragu yang masih tersisa adalah pembeda antara mereka yang hanya bermimpi dengan mereka yang benar-benar membentuk masa depan.
Jadikan setiap kegagalan tahun lalu sebagai guru terbaik yang membantumu mengasah strategi, dan biarkan harapan baru menjadi energi yang tak padam. Selamat bertumbuh dan menata masa depan, Sobat Gen! Mari kita jadikan tahun ini sebagai saksi dari versi terbaik dirimu yang terus berproses tanpa henti! Semoga Allah Paring Kelancaran Kemudahan Pertolongan dan Barokah! Amiin










Leave a Reply
View Comments