Oleh Fitri Utami
Ada hari ketika kita bangun pagi bukan karena semangat, tapi karena alarm tidak bisa dimatikan lebih lama. Tubuh bergerak, tapi kepala masih bertanya: “Aku lagi ngapain, sih?”. Kerjaan jalan, kuliah lanjut, target ada tapi tetap terasa kosong. Capek, tapi tidak tahu capek karena apa. Ingin berhenti sebentar, tapi takut tertinggal.
Perasaan ini tidak aneh. Banyak generasi muda hidup di fase transisi: belum benar-benar sampai, tapi sudah terlalu jauh untuk kembali. Di tengah kebisingan tuntutan dan perbandingan, muncul satu pertanyaan sederhana tapi berat: hidup ini sebenarnya untuk apa?
Dalam budaya Jepang, kegelisahan semacam ini dikenal dengan konsep “Ikigai” atau alasan untuk hidup, alasan untuk bangun setiap pagi. Bukan mimpi besar atau tujuan heroik, melainkan sesuatu yang membuat hidup terasa layak dijalani. Sesuatu yang, meski kecil, memberi alasan untuk tetap melangkah hari ini.
Menariknya, dalam Islam, pertanyaan tentang makna hidup sudah dijawab sejak awal. Allah berfirman:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Namun bagi banyak generasi muda, ayat ini sering terdengar jauh. Terlalu besar. Terlalu “langit”, sementara yang dirasakan justru sangat “bumi”: lelah, bingung, dan tidak yakin sedang berada di jalur yang benar. Padahal, ibadah dalam Islam tidak sesempit yang sering dibayangkan. Ia tidak hanya soal ritual, tetapi tentang bagaimana hidup dijalani dengan kesadaran dan niat.
Di titik ini, ikigai membantu kita bernapas lebih pelan. Bahwa makna hidup tidak harus ditemukan sekaligus. Ia bisa tumbuh dari hal-hal yang sedang kita jalani sekarang. Kuliah yang terasa salah jurusan, pekerjaan yang belum ideal, atau fase hidup yang tidak sesuai rencana—semuanya masih bisa menjadi bagian dari ibadah, jika dijalani dengan niat yang lurus.
Ikigai sering digambarkan sebagai pertemuan antara apa yang kita cintai, apa yang bisa kita lakukan, apa yang dibutuhkan dunia, dan apa yang memberi nilai. Dalam Islam, pertemuan itu disebut amal saleh. Segala perbuatan baik yang membawa manfaat, sekecil apa pun. Belajar dengan sungguh-sungguh, bekerja dengan jujur, menjaga diri dari yang merusak, dan tetap berbuat baik meski hati sedang lelah.
Masalahnya, kita sering merasa hidup tidak bermakna karena membandingkan diri dengan hidup orang lain. Media sosial membuat seolah-olah semua orang sudah “nemu jalan”, sementara kita masih meraba-raba. Padahal Rasulullah SAW mengingatkan:
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini memberi ruang bernapas. Bahwa hidup yang tampak biasa pun bisa bernilai luar biasa. Bahwa rutinitas yang sunyi tetap berarti jika dijalani dengan niat yang benar. Ikigai, dalam kacamata Islam, bukan tentang menemukan satu jawaban besar, tetapi tentang menata niat dalam langkah-langkah kecil.
Ada hari ketika ikigai terasa hilang. Ibadah terasa kosong, doa terasa jauh, dan hidup seperti berjalan tanpa arah. Islam tidak menilai fase ini sebagai kegagalan iman. Justru di sanalah nilai sabar dan istiqamah diuji. Bertahan pun bisa menjadi bentuk ibadah.
Allah berfirman:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)
Ayat ini seperti pelukan. Bahwa kebingungan dan kelelahan bukan tanda kita salah jalan. Bisa jadi itu bagian dari proses menemukan makna hidup yang lebih jujur dan dewasa. Ikigai tidak selalu hadir sebagai semangat yang menyala. Kadang ia hanya hadir sebagai alasan kecil untuk tidak menyerah hari ini—dan itu sudah cukup.
Mungkin kita tidak perlu terlalu sibuk mencari makna hidup ke tempat yang jauh. Bisa jadi, makna itu sedang tumbuh di tempat kita berdiri sekarang. Dalam usaha kecil memperbaiki diri, dalam ibadah yang dijaga meski tertatih, dan dalam niat untuk tetap memberi manfaat.
Karena dalam Islam, hidup yang bermakna bukan tentang menjadi paling berhasil atau paling cepat sampai. Tetapi tentang menjalani amanah sebagai hamba—dengan sadar, jujur, dan penuh niat baik. Dan mungkin, di sanalah ikigai itu benar-benar tinggal.










Leave a Reply
View Comments