Generus Indonesia
Ada Anak Kecil dalam Diri Kita dan The Little Prince Menyapanya. Gambar: Generus

Ada Anak Kecil dalam Diri Kita dan The Little Prince Menyapanya

Oleh Muhammad Faqihna Fiddin

Ada bagian dari The Little Prince yang bikin aku mikir soal bagaimana manusia dewasa sering kehilangan kepekaan untuk melihat yang sederhana. Kita tumbuh dan mulai memikirkan angka tabungan, reputasi pekerjaan, status, dan pencapaian. Semua itu terasa penting. Namun dalam cerita ini justru hal paling berarti bukan yang terlihat besar. Justru yang kecil yang tampak sepele yang memberikan makna pada hidup tokoh utamanya dan juga si pilot.

Ketika Little Prince berbicara tentang bunganya ada rasa canggung dan gengsi. Ia sebenarnya sayang pada bunga itu, tetapi ia tidak tahu cara menunjukkan atau mengakui perasaannya. Bunga itu manja sensitif dan suka drama. Tapi justru sifat itulah yang membuatnya berharga bagi Little Prince.

Ada adegan ketika ia bilang kalau bunganya itu cuma bunga biasa tapi kemudian ia sadar bahwa ia merawatnya memberi waktu memperhatikan dan menjaganya. Dan karena itu bunga tersebut tidak bisa disamakan dengan bunga lainnya di semesta. Pada titik ini aku merasa cerita itu sedang bicara tentang hubungan manusia entah itu cinta keluarga atau persahabatan. Sering kali kita tidak sadar bahwa yang membuat sesuatu atau seseorang berarti bukan karena istimewa sejak awal tetapi karena kita memilih menjaganya.

Kalimat “You become responsible forever for what you have tamed” terasa seperti pengingat bahwa hubungan bukan hanya soal suka dan bahagia. Ada komitmen kedewasaan dan kesediaan untuk tetap tinggal meski tidak selalu mudah. Tidak ada musik dramatis di dalamnya hanya kesadaran sederhana bahwa hati memiliki konsekuensi.

Bagian lain yang menarik adalah bagaimana orang dewasa dalam buku ini terlihat lucu dan aneh dalam cara berpikir. Mereka sibuk menghitung menghimpun dan mengukur tetapi tidak benar benar melihat. Mereka tahu angka tetapi tidak tahu makna. Saxophone bukan instrumen yang indah melainkan benda yang bernilai sekian rupiah. Bintang bukan sesuatu yang membuat orang menatap langit dalam diam melainkan objek yang bisa dimiliki dalam catatan inventaris. Ada nuansa sindiran yang lembut tetapi tetap terasa menusuk.

Saat membaca itu aku merasa seperti sedang diajak berhenti sejenak dari ritme hidup yang cepat. Aku merasa diajak untuk kembali mengingat hal hal yang dulu membuat hidup terasa penuh keajaiban. Seperti melihat langit malam mendengar suara hujan atau merawat sesuatu yang sederhana tetapi bernilai di hati.

Mungkin alasan kenapa buku ini digemari banyak orang bukan karena bahasanya indah atau karena ceritanya penuh simbol. Mungkin karena setiap orang pernah menjadi anak kecil yang penuh rasa ingin tahu dan kemudian tumbuh menjadi dewasa yang mulai lupa caranya merasakan. Membaca The Little Prince seperti menemukan cermin kecil yang jujur. Ada bagian dari diri yang merasa tersenyum dan ada juga bagian lain yang merasa tersentil.

Pada akhirnya buatku buku ini bukan hanya dongeng. Ia seperti catatan halus tentang bagaimana mencintai melihat dengan hati dan tetap menjadi manusia yang hidup bukan sekadar menjalani waktu.

Mungkin refleksi paling sederhana dari semuanya adalah ini. Kita sering mencari makna jauh jauh ke depan mengejar sesuatu yang besar dan terlihat tetapi lupa bahwa yang benar benar berarti mungkin sedang duduk diam di samping kita menunggu untuk diperhatikan.

Dan buku ini mengingatkanku bahwa tidak apa apa untuk menjadi lembut di dunia yang keras. Tidak apa apa untuk memperlambat langkah. Tidak apa apa untuk tetap menyimpan hati yang bisa merasa meski hidup meminta logika.

Karena pada akhirnya yang penting bukan berapa banyak yang kita punya. Tetapi siapa yang sudah kita temui siapa yang kita jaga dan hal hal kecil yang membuat kita tetap manusia.

what is essential is invisible to the eye”

salah satu kalimat yang banyak dikutip dari buku The Little Prince