Generus Indonesia
Menemukan Allah dalam Keseharian. Gambar: Generus

Menemukan Allah dalam Keseharian dan Hal-Hal Kecil di Sekitar Kita

Oleh Muhammad Faqihna Fiddin

Ada sesuatu yang khas dari orang-orang yang benar-benar mencintai Allah. Kamu bisa mendengarnya dari suara mereka, melihatnya dari cara mereka membicarakan-Nya—seolah-olah Dia adalah sosok yang selalu mereka bawa ke mana pun. Ini bukan sekadar kata-kata; ada sebuah rasa, ada ketulusan dalam nada bicara, dan ada binar emosi di mata mereka. Iman itu tumpah ke dalam setiap hal yang mereka lakukan, bahkan obrolan paling sederhana pun bisa berubah jadi perenungan tentang-Nya.

Hal ini membuatku bertanya-tanya, apakah kita pernah meminta cinta yang seperti itu? Apakah kita berdoa bukan cuma buat minta kemudahan dan rezeki, tapi juga minta kemampuan untuk mengenal Allah? Untuk bisa melihat-Nya dalam segala hal, agar bisa lebih sadar dan bermakna dalam menyembah-Nya? Rasanya kita harus begitu. Seharusnya menjadi hal yang biasa bagi kita untuk berucap, “Ya Allah, biarkan aku mencintai-Mu. Izinkan aku dekat dengan-Mu. Izinkan aku menyembah-Mu dengan tulus dan mendalam.”

Beberapa hari lalu, aku sempat mengobrol dengan seorang teman, merenungkan betapa indahnya berada di sekitar orang-orang yang bicara tentang Allah dengan penuh gairah. Cara mereka bilang “Allah Maha Penyayang” itu bukan cuma di lisan, tapi terasa sampai ke hati. Mereka menceritakan tentang-Nya layaknya seorang pendongeng, menggambarkan sifat-sifat-Nya bukan sekadar nama, tapi lewat pengalaman nyata. Allah itu begini, begitu, dan begini. Lewat mereka, entah bagaimana, sosok-Nya jadi terasa lebih nyata bagi kita.

Aku ingat percakapan dengan seseorang suatu waktu. Awalnya santai saja, bahas tentang Al-Qur’an. Lalu tiba-tiba, dia bilang surah favoritnya adalah Al-Waqi’ah. Pas aku tanya kenapa, dia tertawa dan bilang, “Soalnya aku mau kaya.”

Dia nggak bercanda. Dia sering mengamalkannya karena percaya pada keberkahannya, pada apa yang disabdakan Rasulullah ﷺ bahwa surah itu membawa kecukupan rezeki. Di situ aku berpikir betapa sederhananya iman itu; bagaimana Allah memang ingin kita meminta kepada-Nya, bagaimana Dia menyuruh kita memanggil-Nya dengan nama-nama-Nya. Kalau Dia adalah Al-Wahhab (Maha Pemberi), kenapa kita nggak minta “hadiah”? Kalau Dia Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki), kenapa kita nggak mencari nafkah lewat Dia? Kalau Dia Al-Ghaniyy (Maha Kaya), kenapa kita nggak berharap kelimpahan?

Lalu, baru beberapa hari lalu, saat lagi berkendara, kami diberhentikan polisi. Suasana hari itu lagi nggak enak, dan aku bisa melihat kekesalan mulai muncul. Temanku ini benci banget basa-basi yang berlebihan, jadi pas polisi mulai “ngalor-ngidul” khas mereka, aku tahu kesabarannya lagi diuji. Tapi saat itu, aku melihat ada yang berubah. Dia menarik napas dalam-dalam, menahan kekesalannya, dan membiarkan momen itu berlalu begitu saja.

Dia menoleh ke arahku dan berkata, “Lihat kan? Aku mulai membaik.”

Kalimatnya sederhana, tapi maknanya dalam banget. Karena sabar itu nggak muncul tiba-tiba dalam semalam. Sabar itu dibangun, dilatih, dan diasah. Sabar ada di momen-momen kecil saat kamu ingin meledak tapi memilih tidak, saat kamu menahan lidah, saat kamu memilih jeda daripada marah-marah. Itu adalah momen saat kamu sadar dan memilih ketenangan di tengah kekacauan—bukan karena itu mudah, tapi karena kamu ingin jadi lebih baik. Karena kamu sedang mengusahakannya. Karena kamu tahu bahwa Allah mencintai orang-orang yang sabar.

Itu yang terus aku renungkan: bahwa iman itu ada pada niat di balik segala sesuatu. Iman bukan cuma soal salat dan puasa, tapi juga soal kemenangan-kemenangan kecil yang nggak terlihat orang. Di saat nggak ada yang melihat, kamu berusaha sadar untuk jadi lebih baik, meski cuma sedikit saja. Karena yang sedikit-sedikit itu kalau dikumpulkan bakal jadi banyak.

Aku suka berada di sekitar orang-orang seperti ini. Mereka yang mengingatkanku pada Allah tanpa perlu berusaha keras. Mereka yang dalam momen sesederhana apa pun bisa memicu perenunganku. Aku punya teman yang selalu begitu. Aku bisa saja sedang menceritakan sesuatu, dan dia akan langsung mengaitkannya kembali kepada Allah. Aku mungkin lagi bahas seseorang, dan dia bakal bilang, “Allah itu begini,” yang seketika mengubah seluruh sudut pandangku.

Dan itu membuatku berpikir, apakah kita melihat Allah dalam segala hal? Ataukah kita cuma mencari-Nya saat lagi susah saja? Padahal Dia selalu ada. Pada perubahan warna langit saat senja. Pada cara menahan diri yang bisa mengubah karakter seseorang. Pada satu keputusan—memilih sabar daripada marah, memilih iman daripada ragu—yang bisa mengubah hati sepenuhnya.

Sepertinya itulah yang aku inginkan: untuk selalu dikelilingi oleh orang-orang yang “membawa” Allah bersama mereka. Orang-orang yang membuat iman itu terasa nyata. Yang mengingatkanku lewat kata, perbuatan, bahkan dalam diam mereka, bahwa Allah itu sangat dekat.