Oleh Tiya inggriyani S
Gemuruh langit sore itu, menandakan akan segera datangnya hujan.
Langit semakin kelam, anginpun semakin berisik menggerakkan dedaunan kering.
Silih berganti ku tatapi manusia-manusia sibuk,
Ah… kursi yg ku duduki ternyata sebuah halte transjakarta.
Kudengarkan percakapan manusia-manusia itu, mereka sedang mempersiapkan untuk hari pertama teraweh dan puasa.
Ya, aku mengerti…
Memang para muslim begitu sibuknya mempersiapkan ibadah 1bulan penuh ini.
Bagaimana dengan aku? Bagi ku, ramadan tahun ini akan sangat berbeda.
Ramadan tahun lalu formasi keluarga ku masih sama:
Ayah, ibu, dan dua orang adik.
Ramadan tahun ini?
Salah satu adik lebih dahulu dipanggil Allah karena lelah berjuang melawan sakitnya,
Berselang empat bulan kemudian, cinta pertamanya menyusulnya, ayah ku,
yang katanya khawatir adik ku sendirian disana.
Tak ku sangka hubungan anak-bapak (mereka) sedalam itu,
Yang ku yakini, mereka saling menyayangi hingga akhir.
Rasanya mereka masih hidup,
Karena keseharian ku yang tidak lagi serumah bertahun-tahun.
Namun ternyata kekosongan itu tetap ada.
Yang selama ini tertahan, yang tak muncul keluar, yang kemudian terasa sekali saat ramadan, dimana
peran keluarga benar-benar melekat pada tradisinya.
Tak lagi ku dengar rengekan seorang adik yang minta jajan dan uang persenan lebih,
Tak lagi ku dengar ceramah bapak-bapak yang selalu ingin ku tinggal pergi.
Udara sore ini begitu pekat,
Rasanya hatiku terlalu kalut dengan vibes ramadan yang sudah tercium harum.
Ah, ramadan ini begitu kosong, tak lagi seperti ramadan-ramadan kemarin..
Sambil menyadari kekosongan, aku sadar bahwa kesempatan bertemu ramadan tidak lagi boleh
dibawa santai seolah umur kita dan sekeliling kita masih ada ditahun depan..
Ku doakan keluarga ku yg telah pergi lalu ku habiskan sisa tenaga dan waktu ku untuk memanfaatkan
ramadan tahun ini dengan ibadah maksimal versi terbaik ku..
Semangatttt!
Bus ku sudah datang..










Leave a Reply
View Comments