Oleh Nabila Kartika Luthfa
Ramadan ini,
Pintu-pintu langit telah dibuka lebar,
namun jendela hatimu seakan masih saja terkunci rapat.
Angin surga mulai berhembus kencang,
membawa wangi ayat yang dilantunkan dari tiap surau.
Namun, di jemarimu masih saja berat membukanya.
Ramadan adalah musim hujan bagi jiwa yang kering.
Ia datang membawa awan rahmat,
agar benih-benih iman di dada tumbuh subur.
Al-Qur’an diturunkan di bulan ini,
sebagai kompas bagi pengembara yang tersesat.
Namun, lihatlah dirimu masih saja sibuk menghitung jam berbuka.
Jika di bulan saat setan-setan dibelenggu ini kau masih merasa asing dengan firman-Nya.
Jika di hari-hari penuh keberkahan ini mushafmu hanya menjadi pajangan di rak yang sepi.
Jika gemuruh surau tiap malam ramadan tak juga mampu menggerakkan bibirmu untuk membaca setiap ayatNya
Maka tanyakan pada jiwamu
Jika Ramadan saja tidak bisa membuatmu dekat dengan Al-Qur’an,
bagaimana dengan bulan lainnya?
Akankah kau menunggu bulan di mana hiruk-pikuk dunia kembali menderu tanpa ampun?
Akankah kau menanti masa di mana godaan kembali lepas,
dan menggodamu melakukan lahan dan dosa?
Ketahuilah,
Ketika hati tak mampu lagi luluh di bawah naungan Ramadan,
Itu artinya hatimu sedang kedinginan, jika dibiarkan akan membeku selamanya.
Dekapan Al Qur’an,
Buat hatimu hangat selagi ramadan masih menyapamu.
Jangan biarkan lisanmu kelu,
sementara pintu langit sedang terbuka lebar merayu.
Jangan sampai Ramadan berlalu dengan catatan tentang hatimu yang penuh pengabaian.
Ketuklah pintu rahmat-Nya melalui barisan ayat yang kau baca,
Sebab hangatnya hidayah hanya milik mereka yang mau menyapa-Nya.










Leave a Reply
View Comments