Sobat Generus, ngeri nggak sih lihat berita akhir-akhir ini? Rasanya baru buka media sosial sebentar, sudah ada saja kabar kekerasan yang bikin dada sesak. Yang bikin makin sulit diterima, pelakunya dan korbannya sering kali adalah anak muda. Usia yang seharusnya dipenuhi mimpi, justru berakhir dengan tragedi.
Salah satu peristiwa yang belakangan menyita perhatian publik adalah kasus pembunuhan seorang siswi SMP Negeri 26 Bandung. Kasus ini bukan hanya menyisakan duka, tetapi juga banyak pertanyaan: bagaimana konflik pertemanan bisa berujung pada hilangnya nyawa?
Setelah melalui serangkaian penyelidikan, aparat kepolisian akhirnya mengungkap kasus tersebut. Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, motif pembunuhan diduga berakar dari persoalan relasi personal yang tidak terselesaikan.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, tersangka mengaku sakit hati karena korban memutus hubungan pertemanan mereka,” kata Niko N Adi Putra, seperti dilansir Antara, Minggu (15/2/2026).
Dari keterangan kepolisian, tersangka berinisial YA disebut tidak bertindak secara spontan. Ia menyusul korban ke Bandung dengan niat yang sudah terbentuk sejak awal. Dalam perjalanannya, YA diantar oleh AP (17), yang kini juga telah diamankan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
“Pelaku berangkat ke Bandung untuk menemui korban. Dari pengakuannya, memang sudah ada niat melakukan pembunuhan,” ujar Kapolres.
Fakta ini membuat kasus tersebut terasa semakin berat. Bukan hanya karena adanya perencanaan, tetapi karena semuanya bermula dari sesuatu yang tampak sederhana: putus pertemanan.
Putus pertemanan, penolakan, atau rasa tidak dianggap adalah pengalaman yang banyak dialami remaja. Rasa sakitnya nyata, apalagi di usia ketika emosi belum sepenuhnya stabil dan kemampuan mengelola konflik masih terus berkembang.
Namun, kasus ini menunjukkan apa yang bisa terjadi ketika luka emosi dipendam terlalu lama tanpa ruang untuk bercerita, tanpa pendampingan, dan tanpa cara sehat untuk menyalurkan perasaan.
Rasa sakit hati yang tidak diolah bisa berubah menjadi amarah. Amarah yang dibiarkan bisa berubah menjadi kebencian. Dan kebencian, ketika tidak dikendalikan, bisa merenggut segalanya.
Peristiwa ini bukan hanya soal pelanggaran hukum yang harus ditindak. Namun juga menjadi cermin besar bagi lingkungan kita: keluarga, sekolah, dan komunitas. Apakah kita cukup peka melihat perubahan emosi remaja? Apakah mereka punya ruang aman untuk mengaku “aku lagi nggak baik-baik saja” tanpa takut dihakimi?
Sekolah telah menyampaikan duka mendalam dan mengajak siswa untuk saling menjaga serta terbuka kepada guru atau konselor. Tapi upaya pencegahan tidak bisa berhenti di satu institusi saja. Ini adalah kerja bersama.
Buat Sobat Generus yang membaca berita ini, mungkin ada rasa takut, marah, atau bahkan bingung. Tapi satu hal penting untuk diingat: emosi itu manusiawi, tapi kekerasan bukan jalan keluar.
Kalau kamu pernah merasa ditinggalkan, ditolak, atau diputus secara sepihak—itu sakit, dan perasaan itu valid. Tapi kamu tidak harus menanggungnya sendirian. Cerita ke teman tepercaya, keluarga, guru, atau konselor bukan tanda lemah. Justru itu bentuk keberanian.
Karena satu keputusan yang diambil dalam kondisi emosi tak terkendali bisa mengubah hidup banyak orang—selamanya.
Kasus ini masih dalam proses penyidikan lebih lanjut. Aparat memastikan penanganannya dilakukan sesuai hukum yang berlaku, dengan tetap memperhatikan keadilan bagi korban dan aspek perlindungan anak.
Dan semoga, dari tragedi ini, kita semuan terutama generasi muda bisa belajar satu hal penting: mengelola emosi adalah keterampilan hidup yang sama pentingnya dengan prestasi apa pun.










Leave a Reply
View Comments