generus indonesia
Ilustrasi Dekapan Ayah.

Kehangatan dan Keteduhan yang Tak Membuatnya Rapuh

Oleh Dwi Prabowo

Udara dini hari itu begitu menggigit, membawa jenis kesunyian yang membuat detak jantung sendiri terdengar begitu nyata. Aku menyentuh bahu anak lelakiku pelan, membisikkan ajakan untuk sholat dan doa di sepertiga malam terakhir. Ia mengerang halus, menggeliat di balik selimut tebalnya sembari mengucek mata yang masih berat oleh kantuk yang pekat.

Aku melangkah ke ruang tengah untuk membentangkan dua sajadah. Namun, saat merapikan sudut kain, aku menyadari ia tak kunjung beranjak. Di ambang pintu kamar, ia berdiri mematung. Tubuhnya yang kini mulai menyamai tinggiku tampak kaku.

“Yah… ke sini sebentar,” bisiknya lirih.

Aku mendekat dengan hati yang sedikit waswas. “Ada apa, Nak?”

Tanpa diduga, ia merentangkan kedua tangannya. Tatapannya sayu, seperti ada mendung yang sedang singgah di sana. “Aku merasa sedikit sedih. Peluk aku, Yah.”

Detik itu, duniaku seolah berhenti. Ada luka melihatnya bersedih, namun ada buncah bahagia karena akulah pelabuhan yang ia cari. Aku merengkuhnya. Dalam diam, aku memeluk tubuh yang tak lagi mungil itu. Merasakan detak jantungnya adalah koneksi ajaib yang menyembuhkan jiwa tanpa perlu mantra.

Aku tersadar. Selama ini aku bangga bisa membelikannya sepeda balap, sepatu bola atau busur panah. Namun, semua itu terasa hambar dibanding momen ini. Menjadi penyembuh sedihnya adalah kehormatan tak ternilai—sebuah peran yang sering dianggap hanya milik ibu, namun kini nyata dalam dekapanku.

“Peluk itu gratis, Nak. Mintalah kapan pun kau butuh,” bisikku dalam hati sambil menepuk punggungnya.

Setelah hatinya tenang, ia melepaskan pelukan dan menuju kamar mandi dengan wajah yang lebih cerah. Aku terdiam di atas sajadah, teringat masa kecilnya saat pelukanku menjadi penawar segala sakit, ketika disuntik, ketika jatuh, sedang terpuruk bahkan ketika gagal.

Aku sadar, aku mungkin bukan ayah yang pandai merangkai nasihat bijak untuk remaja masa kini, tapi dia punya memori masa kecil dimana sebuah pelukan adalah bahasa penyembuh dan pembangkit semangat yang paling mujarab baginya.

Banyak ayah berpikir mencetak lelaki tangguh harus melalui didikan sekeras batu dan sedingin es. Namun, aku percaya sebaliknya. Menanamkan kehangatan tidak akan membuat daya juangnya keropos.

Pagi itu, di atas dua sajadah sejajar, aku bukan sekedar mengajaknya salat. Aku sedang menempa kekuatannya. Agar ia menjadi lelaki yang memiliki perisai baja di luar, namun menyimpan telaga bening di dalam. Aku ingin ia tangguh bukan karena kerasnya batin, tapi karena tahu cara memproses luka dengan keteduhan. Karena sabar dan syukur dimulai dari hati yang teduh.