Generus Indonesia
Kasus Hogi Sleman Adalah 'Joke' Terburuk Tahun Ini. Gambar: Generus

Pahlawan Kok Dipidana? Alasan Kenapa Kasus Hogi Sleman Adalah ‘Joke’ Terburuk Tahun Ini

Belakangan ini, setelah medsos kita riuh dengan kontroversi jokes-nya pertunjukan komedi tunggalnya Pandji Pragiwaksono dengan judul “Mens Rea”, timeline kita diramekan lagi sama kasus Mas Hogi Minaya dari Sleman. Kalau lu belum tau ceritanya, sini gue spill singkatnya: Istri Mas Hogi dijambret, Mas Hogi nggak tinggal diam—sebagai suami teladan, dia langsung gaspol ngejar pelaku pakai mobil. Singkat cerita, dua jambret itu kecelakaan dan tewas.

Logika kita nih ya, Mas Hogi itu pahlawan, kan? Tapi plot twist-nya lebih pahit dari kopi tanpa gula: Mas Hogi malah ditetapin jadi tersangka oleh Polresta Sleman karena dianggap lalai sampai ngilangin nyawa orang. Wait, what?You’re kidding me!?

Ketika “Self-Defense” Malah Kena Pasal Jujur ya, ini bikin kita semua gagal paham. Bayangin, lu lagi di posisi Mas Hogi. Istri terancam, harta diambil, masa lu mau diam aja sambil bilang “Silakan Mas Jambret, hati-hati di jalan ya!”? atau kalian lebih memilih kooperatif dengan jambretnya kalo bisa malah diajak makan dan ngopi sekalian. Ya nggak lah! Refleks buat ngelindungi orang tersayang itu insting paling dasar manusia.

Tapi kok bisa-bisanya aparat kita malah fokus ke “hilangnya nyawa pelaku” daripada “tindakan kriminal awal” yang bikin kejadian itu ada? Publik pun langsung rame. Netizen Indonesia yang emang nggak ada lawan langsung kompak: “Mana keadilannya, Pak?”

DPR Turun Tangan: “Stop Lawaknya!” Saking viralnya, kasus ini sampai narik perhatian Komisi III DPR RI. Dalam RDP (Rapat Dengar Pendapat), Pak Habiburohman dan kawan-kawan langsung “skakmat” pihak Polresta Sleman. Perintahnya tegas: Hentikan kasus Mas Hogi! DPR melihat nggak ada unsur pidana di situ. Mas Hogi itu lagi melakukan pembelaan. Kalau kasus ini diterusin, yang ada malah bikin masyarakat makin trust issues sama Polri. Kita butuh polisi yang ngelindungin korban, bukan yang malah bikin korban jadi pesakitan gara-gara ngebela diri.

Pelajaran Buat Kita: Jangan Takut Lawan Kejahatan! Fenomena Hogi Minaya ini jadi wake-up call buat kita semua. Ada beberapa poin yang bisa kita petik:

  • Jangan Takut Bela Diri: Secara hukum, ada yang namanya Noodweer (pembelaan terpaksa) yang diatur dalam Pasal 34 dan Overmacht dalam Pasal 42 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Selama lu ngebela diri atau harta benda karena terdesak, lu punya hak buat itu.
  • The Power of Netizen: Suara kita di medsos itu impactful. Jangan berhenti buat speak up kalau nemu ketidakadilan. No viral no justice!
  • Polisi Harus Update dan “Lebih Peka”: Hukum itu bukan cuma soal teks di buku, tapi soal rasa keadilan di tengah masyarakat.

Harapan Buat Polri: Be Truly PRESISI! Buat Bapak-Bapak di Kepolisian, kita semua pengen Polri itu jadi “pahlawan” yang beneran. Seperti Batman bagi warga Gotham atau The Avengers yang gak ada takutnya buat ngelawan Thanos. Tagline PRESISI (Prediktif, Responsibilitas, Transparansi Berkeadilan) itu keren banget, tapi tolong banget diaplikasiin pakai hati nurani, bukan cuma cari dalil pembenaran. Jangan sampai masyarakat ngerasa kalau “Lapor polisi malah jadi rugi, ngebela diri malah masuk bui” Kita butuh Polri yang bener-bener jadi pengayom, yang paham mana penjahat asli dan mana warga yang cuma pengen istrinya aman. Gimana menurut kalian? Yuk tulis opini kalian di kolom komentar!