Oleh Nabila Kartika Luthfa
Beberapa tahun lalu, menikah di Kantor Urusan Agama (KUA) sering kali dianggap sebagai “pilihan terakhir” atau identik dengan keterbatasan biaya. Namun, roda zaman berputar. Tetapi akhir-akhir ini, menikah di KUA telah bertransformasi menjadi tren gaya hidup, yang justru dibanggakan oleh banyak pasangan Gen Z dan Milenial.
Bukan karena tidak mampu, tapi karena logika finansial mereka telah bergeser tajam. Mereka mempunyai anggapan mengapa menghabiskan ratusan juta dalam satu malam, jika uang itu bisa menjadi kunci pertama rumah impian?
Bagi pasangan muda yang hidup di tengah ancaman inflasi dan harga properti yang terus meroket, resepsi pernikahan mewah kini terlihat sebagai “liabilitas” dari pada “prestasi”. Logikanya sederhana, biaya katering, sewa gedung, dan dekorasi untuk ratusan tamu bisa menelan biaya Rp100 juta hingga Rp300 juta. Di sisi lain, angka tersebut sudah sangat cukup untuk mengamankan modal untuk membeli rumah.
Pasangan masa kini lebih memilih “keamanan setelah menikah” dari pada “pujian saat menikah”. Mereka sadar bahwa tamu undangan tidak akan membantu membayar pembelian rumah mereka.
Tren ini bukan sekadar soal penghematan, melainkan sebuah protes terhadap budaya konsumtif. Menikah di KUA memiliki tiga pernyataan penting. Pertama menikah di KUA adalah sebuah kedaulatan finansial, pasangan punya hak penuh atas uang mereka tanpa harus didikte oleh standar sosial yang usang.
Kedua, menikah di KUA memiliki makna di atas gengsi, intisari pernikahan adalah akad/janji suci. Pesta hanyalah tambahan (complementary). Ketiga, menikah di KUA adalah minimalisme modern, menghilangkan drama logistik resepsi yang melelahkan memberikan ruang mental yang lebih sehat bagi pengantin untuk memulai hidup baru.
Menikah di KUA memangkas semua “kebisingan” resepsi. Dengan tamu yang hanya terdiri dari keluarga inti, momen akad nikah terasa jauh lebih sakral. Energi dan emosi fokus pada janji suci, bukan pada apakah makanan katering masih cukup atau apakah tamu undangan merasa nyaman. Ini adalah bentuk intimasi yang jujur, di mana hanya orang-orang terdekat yang menjadi saksi dimulainya sebuah perjalanan hidup.
Pasangan yang memilih jalur ini biasanya memulai hidup baru dengan tingkat stres finansial yang jauh lebih rendah. Uang yang dihemat dialokasikan untuk fondasi jangka panjang seperti untuk dana darurat, investasi bahkan untuk modal usaha
Tren nikah di KUA adalah bukti kedewasaan berpikir. Harapannya, stigma negatif dari lingkungan sekitar perlahan memudar. Bagi orang tua dan keluarga besar, penting untuk menyadari bahwa mendukung pilihan ini berarti mendukung kesejahteraan finansial anak-anak mereka di masa depan.
Jika kalian memilih jalur ini, komunikasikan dengan baik kepada keluarga besar sejak awal. Jelaskan bahwa pilihan ini diambil demi masa depan yang lebih kokoh. Ingat, kebahagiaan pernikahan itu diukur dari apa yang terjadi di dalam rumah setelah pesta usai, bukan dari seberapa megah pesta itu digelar.










Leave a Reply
View Comments