Oleh Nabila Kartika Luthfa
Hai Sobat Gen! Pernah gak sih kamu merasa bersalah setelah beli kopi seharga Rp40.000, padahal saldo di rekening masih aman? Atau tiba-tiba merasa “miskin” setelah scrol sosmed melihat teman sebaya pamer saldo tabungan yang sudah mencapai tiga digit?
Selamat, kamu mungkin sedang memasuki fase FOMO Revenge Saving. Di media sosial, tren ini lagi naik daun. Banyak anak muda yang berlomba-lomba memotong pengeluaran secara drastis demi bisa pamer “angka” di akhir bulan. Tapi pertanyaannya: Apakah kamu benar-benar sedang irit untuk masa depan, atau justru sedang menyiksa diri karena rasa takut?
Secara sederhana, fenomena ini merupakan menabung secara agresif yang dipicu oleh rasa takut ketinggalan Fear of Missing Out. Istilah Revenge atau balas dendam muncul karena adanya keinginan untuk “membalas” ketidakpastian ekonomi dengan cara mengontrol uang seketat mungkin.
Bedanya dengan menabung biasanya adalah motivasinya. Menabung biasa didasari oleh tujuan (seperti beli rumah atau dana darurat), sedangkan FOMO Revenge Saving didasari oleh kecemasan melihat pencapaian finansial orang lain di sosmed.
Banyak yang terjebak dalam tren ini karena merasa sedang melakukan hal positif. Namun, ada perbedaan besar antara menjadi orang yang cerdas secara finansial (irit) dan orang yang terobsesi pada angka (pelit ke diri sendiri).
Bagi “Si Irit” akan banyak memotong biaya yang tidak perlu agar bisa dialokasikan ke pos yang lebih penting tanpa mengorbankan kesehatan mental. Tapi “Si FOMO Revenge Saver” akan memotong semua biaya, termasuk kebutuhan bersosialisasi dan nutrisi. Semua itu hanya karena merasa “berdosa” jika tabungannya tidak naik secepat orang lain di sosmed.
Meskipun terdengar produktif karena saldo bertambah, tren ini punya sisi gelap yang sering diabaikan. Pertama, Financial Burnout. Sama seperti diet ekstrem yang bikin orang binge eating nantinya, menabung terlalu ketat bisa membuatmu stres dan akhirnya melakukan belanja balas dendam (revenge spending) yang jauh lebih parah.
Kedua, kehilangan networking. Ketika kalian terjebak trend FOMO Revenge Saving, kalian akan sering menolak semua ajakan nongkrong demi nabung 100 persen bisa memutus hubungan sosial. Padahal, bagi anak muda, koneksi seringkali adalah aset yang lebih mahal daripada sekadar saldo tabungan.
Ketiga, kesehatan bisa terabaikan. Kesehatan adalah Investasi, kalau kamu makan mie instan tiap hari demi investasi, kamu sebenarnya sedang menimbun biaya rumah sakit di masa depan. Hal ini bukan investasi yang cerdas. Kamu harus tetap menomorsatukan kesehatan ya sob!
Jika kamu ingin punya tabungan kuat tapi tetap bisa menikmati hidup, coba terapkan beberapa hal. Pertama, matikan notifikasi Wealth-Flexing. Jika melihat konten sosmed yang hanya pamer saldo bikin kamu stres, unfollow atau mute. Fokus pada progresmu sendiri ya sobat gen.
Kedua, gunakan aturan 50/30/20. Pastikan 50% untuk kebutuhan, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk tabungan atau investasi. Ini jauh lebih berkelanjutan daripada nabung 80% tapi hidup menderita.
Ketiga, nabunglah karena kamu ingin bebas finansial, bukan karena ingin merasa lebih hebat dari orang lain. Carilah tujuan finansialmu bukan hanya sekedar angka yang meningkat saja.
Uang hanyalah alat. Jangan sampai demi mengumpulkan alat tersebut, kamu malah kehilangan fungsi hidup yang sebenarnya. Menabunglah dengan bijak, bukan dengan rasa takut ya sobat gen!










Leave a Reply
View Comments