Ilustrasi Di Balik Papan Tulis.

Di Balik Papan Tulis

Di hadapan papan tulis yang penuh rumus, suara-suara kecil melambung tinggi ke langit-langit kelas. “Aku ingin jadi dokter!” seru salah satunya. “Aku ingin menerbangkan pesawat!” timpal yang lain. Mata mereka bersinar, jernih, dan penuh janji, seolah dunia adalah taman bermain yang tanpa duri.

Guru itu berdiri di sana, mengangguk dan merawat api itu, meski di balik kemeja seragam yang mulai memudar warnanya, ia sedang menyembunyikan getar lapar yang tak kunjung reda. Ia tidak berani ikut bicara, apalagi menitipkan cita-citanya di sela riuh itu.

Cita-citanya tidak lagi setinggi awan atau sejauh bintang, angannya sudah menciut, terbentur pada tembok-tembok dapur. Ia hanya ingin hari-hari berjalan tanpa rasa cemas, bisa makan tiga kali sehari dengan tenang, tanpa perlu membagi sebutir telur menjadi empat bagian, atau membolak-balik kalender dengan jempol yang gemetar.

Di negeri ini, ia dijuluki pahlawan, namun pahlawan itu seringkali harus berhutang pada warung sebelah, menunggu upah rapuh yang jatuh di sisa-sisa akhir bulan, yang habis dalam semalam untuk melunasi cicilan nyawa.

Ia tersenyum pada murid-muridnya, “Terbanglah tinggi,” bisiknya dalam hati, “Agar kalian tak perlu menjadi sepertiku: mendidik dunia untuk jadi hebat, namun harus berjuang hebat hanya untuk sekadar kenyang.”