Oleh Fitri Utami
Banyak generasi muda merasa menabung itu mustahil. Gaji baru masuk, belum tengah bulan sudah habis. Bukan karena boros semata, tapi karena biaya hidup memang nyata: makan, transport, kuota, cicilan, dan kebutuhan tak terduga. Tapi sebenarnya, masalah keuangan sering bukan pada berapa yang kita punya, melainkan bagaimana kita membaginya.
Menabung tidak harus menunggu gaji besar, namun bisa dimulai dari kebiasaan kecil yang konsisten. Salah satu cara paling realistis adalah membagi penghasilan ke dalam pos-pos yang jelas. Berikut contoh pembagian persentase keuangan yang bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
1. Biaya Hidup – ±50%
Ini pos terbesar dan paling realistis. Isinya kebutuhan harian: makan, transportasi, pulsa, kos/kontrakan, dan kebutuhan rutin lain. Kuncinya bukan hidup super irit, tapi hidup sadar. Tahu mana kebutuhan, mana keinginan.
Kalau biaya hidup sudah tembus lebih dari 60%, itu tanda perlu evaluasi gaya hidup atau cari alternatif yang lebih hemat.
2. Orang Tua & Keluarga – ±10%
Berapa pun jumlahnya, menyisihkan untuk orang tua bukan soal nominal, tapi niat dan konsistensi. Bentuknya bisa uang, bisa juga membantu kebutuhan tertentu. Selain bernilai sosial, ini juga bentuk investasi emosional yang sering luput dihitung.
3. Sedekah & Sosial – ±5%
Sedekah sering dianggap sisa. Padahal justru sebaiknya jadi pos awal. Tidak harus besar, tapi rutin. Selain membersihkan harta, sedekah juga melatih kita untuk tidak terlalu melekat pada uang.
Banyak orang justru merasa keuangannya lebih “cukup” ketika rutin berbagi.
4. Menabung – ±15%
Ini tabungan aman. Untuk dana darurat, rencana jangka pendek, atau kebutuhan mendadak. Idealnya, dana darurat terkumpul minimal 3–6 bulan biaya hidup.
Tips penting: tabung di awal, bukan dari sisa. Begitu gaji masuk, langsung pisahkan.
5. Investasi – ±10%
Investasi berbeda dengan menabung. Tujuannya jangka panjang: pendidikan, rumah, pensiun. Bentuknya bisa reksa dana, emas, atau instrumen lain sesuai profil risiko.
Tidak perlu menunggu paham segalanya. Mulai kecil sambil belajar jauh lebih baik daripada menunda.
6. Pengembangan Diri & Healing – ±10%
Hidup bukan cuma bertahan. Kursus, buku, olahraga, atau sesekali healing juga perlu. Pos ini menjaga kesehatan mental dan kualitas diri, asal tetap sadar batas.
Persentase di atas bukan aturan baku. Setiap orang punya kondisi berbeda. Ada yang masih tinggal dengan orang tua, ada yang menanggung keluarga, ada yang gajinya belum stabil. Yang terpenting bukan angkanya, tapi kesadaran membagi.
Mengatur keuangan bukan tentang menyiksa diri hari ini, tapi menolong diri di masa depan. Pelan-pelan tidak apa. Yang penting mulai.
Karena pada akhirnya, keuangan yang sehat bukan soal terlihat kaya, tapi tenang menjalani hidup tanpa panik setiap akhir bulan.










Leave a Reply
View Comments