Generus Indonesia
Berhenti Bertanya, Mulai Berempati. Gambar: Generus

Berhenti Bertanya, Mulai Berempati

Setiap kali kabar duka tersebar, hampir selalu ada satu pertanyaan yang muncul paling cepat: “Meninggalnya kenapa?” Pertanyaan ini kerap dibungkus rasa peduli, tapi sering kali yang bekerja justru rasa ingin tahu. Di titik inilah empati mulai kehilangan maknanya.

Tidak semua kematian perlu dijelaskan ke publik. Tidak semua duka siap dibagikan. Ketika keluarga memilih diam, itu bukan karena mereka menyembunyikan sesuatu, melainkan karena mereka sedang berusaha bertahan. Kehilangan orang terkasih sudah cukup melelahkan, tanpa harus ditambah kewajiban menjelaskan penyebabnya berulang kali kepada banyak orang.

Dalam praktiknya, satu pertanyaan jarang berhenti pada satu orang. Ia menjalar. Pesan pribadi datang bertubi-tubi, kolom komentar penuh spekulasi, dan keluarga dipaksa mengulang cerita yang sama—saat luka masih basah. Kita sering lupa bahwa setiap penjelasan adalah energi emosional yang mahal bagi orang yang sedang berduka.

Budaya ingin tahu ini diperparah oleh media sosial. Informasi bergerak cepat, tapi empati sering tertinggal. Kabar duka berubah menjadi konsumsi bersama, seolah publik berhak atas detail pribadi. Padahal, hak keluarga untuk berduka dengan tenang jauh lebih penting daripada rasa puas kita setelah mendapatkan jawaban.

Perlu ditegaskan: lain halnya jika keluarga sendiri yang lebih dulu menyampaikan**.** Itu pilihan mereka, dan patut dihormati. Namun jika tidak, pertanyaan demi pertanyaan justru menjadi bentuk ketidaksensitifan yang dilegalkan oleh kebiasaan. Kita lupa bahwa diam juga bisa menjadi sikap.

Opini ini sederhana: berhentilah bertanya hal-hal yang tidak perlu kita tahu. Empati tidak diukur dari seberapa detail informasi yang kita kumpulkan, melainkan dari seberapa besar kita mampu menahan diri. Kalimat belasungkawa tidak butuh lanjutan interogasi.

Kita hidup di zaman yang terlalu sering merasa berhak atas cerita orang lain. Sudah waktunya belajar membedakan antara peduli dan kepo. Karena keluarga yang berduka tidak membutuhkan penonton, apalagi penyelidik. Mereka hanya butuh ruang.

Dan mungkin, bentuk empati paling jujur hari ini adalah ini:berhenti bertanya, mulai mendoakan, dan biarkan duka berjalan tanpa harus dipertanggungjawabkan kepada siapa pun.