Generasi Indonesia
Konsumerisme Perbudakan Versi 2.0 yang "Sempurna". Gambar: Generus

Konsumerisme Perbudakan Versi 2.0 yang “Sempurna”

Pernah nggak sih kamu merasa kalau hidup itu isinya cuma kerja, dapet duit, trus duitnya dipake buat beli barang yang sebenernya nggak butuh-butuh amat, cuma biar bisa diposting di Instagram atau TikTok? Kalau iya, selamat! Kamu sedang berada di dalam pusaran yang disebut oleh salah satu dosen, edukator dan sejarawan asal China, Prof. Jiang Xueqin sebagai “The Perfection of Slavery” alias perbudakan yang sempurna.

Mungkin terdengar ekstrem, ya? Masa kita yang bebas milih mau beli iPhone atau Samsung disebut budak? Tapi menurut Prof. Jiang, di situlah letak kengeriannya. Kita merasa bebas, padahal kita sedang dikontrol secara psikologis dan ekonomi. Yuk, kita bedah pelan-pelan kenapa konsumerisme itu sebenarnya jebakan maut yang bikin kita “mati pelan-pelan” tanpa kita sadari.

1. Dulu Buruh Adalah Raja, Sekarang Pembeli Adalah… Budak?

Prof. Jiang memulai ceritanya dengan sedikit kilas balik sejarah (tenang, ini nggak bakal bikin ngantuk). Setelah Perang Dunia II, dunia itu punya sistem yang cukup oke. Pusat dari masyarakat adalah Pekerja (Worker). Logikanya sederhana: pekerja itu yang bikin nilai (value), uang cuma angka spekulatif. Makanya, tahun 50-an sampai 70-an itu dianggap masa keemasan kelas menengah. Pendidikan murah, kesehatan terjamin, dan kalau kamu warga negara yang baik, pemerintah menjamin kamu dapet pekerjaan tetap seumur hidup.

Tapi, masuk tahun 80-an, terjadilah yang namanya “Revolt of the Elite” atau pemberontakan para elit. Para bos-bos besar dan penguasa ngerasa kalau semua orang setara, mereka nggak bisa punya kekuatan lebih. Akhirnya, terjadilah revolusi neoliberalisme (zaman Reagan di AS dan Margaret Thatcher di Inggris).

Fokus masyarakat digeser. Bukan lagi tentang “Saya menjanjikan kamu pekerjaan yang layak,” tapi jadi “Saya menjanjikan kamu harga murah dan pilihan barang yang banyak.” Dari sini, identitas kita berubah. Kita bukan lagi seorang pekerja **yang punya kesadaran politik, tapi jadi seorang konsumen yang haus akan barang baru.

2. Eksperimen “Satu Juta Dolar”: Kenapa Kita Jadi Saling Benci?

Prof. Jiang ngasih sebuah eksperimen pikiran yang menarik banget. Bayangkan satu sekolah dikasih uang masing-masing 1 juta dolar (sekitar Rp15 miliar). Apa yang terjadi?

Pertama, kamu bakal beli rumah. Oke, masuk akal. Terus beli furnitur mewah. Masih oke. Tapi langkah selanjutnya adalah yang paling krusial: Kamu bakal foto rumah itu dan posting di media sosial.

Apa efeknya? Teman kamu yang juga punya 1 juta dolar bakal ngerasa tersaingi. Dia bakal beli rumah yang lebih gede, mobil yang lebih mewah, dan posting juga. Akhirnya, terjadilah kompetisi prestise. Uang 1 juta dolar tadi ternyata nggak cukup buat menangin gengsi. Akhirnya apa? Semua orang berutang (debt).

Di akhir cerita, semua orang punya barang mewah tapi mereka juga punya utang segunung dan mereka saling benci satu sama lain. Kenapa benci? Karena dalam dunia konsumerisme, kebahagiaan kamu itu relatif terhadap apa yang orang lain punya. Inilah yang disebut Prof. Jiang sebagai Individuasi atau Atomisasi: kita jadi nggak bisa kerja sama, nggak mau solidaritas, karena kita terlalu sibuk kompetisi pamer barang.

3. Logika Ekonomi yang Meracuni Hubungan Manusia

Dampak paling ngeri dari konsumerisme bukan cuma di dompet, tapi di cara kita berpikir. Kita mulai pake yang namanya Economic Logic atau logika ekonomi untuk segala hal.

Contoh paling simpel: Pas mau pacaran atau cari pasangan. Alih-alih nanya “Dia orangnya baik nggak ya?” atau “Kita nyambung nggak ya?”, pertanyaan yang muncul di kepala (sadar atau nggak) adalah “Dia kerjanya apa?”, “Gajinya berapa?”, “Nanti kalau nikah gaya hidupnya gimana?”.

Kita mulai melihat dunia hanya lewat lensa kapital. Bahkan sekolah pun bukan lagi tempat buat buka pikiran atau belajar kritis, tapi cuma tempat buat “dapet gelar supaya dapet kerja bagus supaya bisa beli barang mewah.” Kalau kamu sekolah cuma demi gaji, selamat, kamu sudah masuk dalam sistem ini.

4. Kenapa Disebut “Perbudakan yang Sempurna”?

Nah, ini poin utama yang paling “jleb”. Kenapa Prof. Jiang menyebutnya perbudakan yang sempurna?

Kalau dulu, budak itu tahu kalau dia budak. Mereka dirantai, dicambuk, dan dipaksa kerja. Karena mereka tahu mereka ditindas, mereka punya keinginan buat berontak. Mereka pengen merdeka.

Tapi dalam sistem konsumerisme:

  1. Kita nggak tahu kalau kita budak. Kita ngerasa keren pake barang branded.
  2. Kita memilih perbudakan ini secara sukarela. Nggak ada yang maksa kamu beli HP terbaru tiap tahun, tapi kamu “merasa” harus beli.
  3. Kita menikmati rantainya. Rantai kita adalah cicilan kartu kredit, paylater, dan keinginan buat divalidasi orang lain.

Karena kita merasa ini adalah pilihan kita sendiri dan kita menikmatinya, kita nggak akan pernah berontak. Inilah kenapa sistem ini disebut sempurna oleh para elit. Mereka dapet uang kita, dapet tenaga kita, dan kita sendiri malah “makasih” ke mereka karena udah dikasih barang bagus.

5. Hubungannya dengan Indonesia Sekarang

Kalau kita lihat fenomena di Indonesia, apa yang dibilang Prof. Jiang ini bener-bener terjadi. Lihat gimana orang rela antre berjam-jam demi rilisan sepatu atau HP baru. Lihat gimana tren flexing di media sosial jadi standar kesuksesan.

Banyak dari kita yang terjebak dalam Middle Income Trap. Kita kerja keras, tapi uangnya habis buat gaya hidup yang sebenarnya nggak sanggup kita tanggung. Kita jadi “setengah menganggur” secara finansial karena gaji cuma lewat buat bayar cicilan gengsi.

6. Gimana Cara Keluar dari Jebakan Ini?

Prof. Jiang nggak cuma ngasih kabar buruk, tapi juga ngajak kita mikir. Solusinya? Balik lagi ke tujuan awal kita sebagai manusia.

  • Berhenti melihat sekolah cuma sebagai pabrik tenaga kerja. Belajarlah buat kritis, buat punya imajinasi, dan buat mengerti dunia lebih dari sekadar angka di rekening.
  • Kurangi kompetisi prestise. Sadari kalau validasi di media sosial itu semu. Kebahagiaan yang didasari dari membandingkan diri sama orang lain itu nggak bakal ada ujungnya.
  • Bangun solidaritas. Konsumerisme pengen kita sendirian dan saling benci. Cara melawannya adalah dengan peduli sama orang lain, bangun komunitas, dan berhenti pake logika ekonomi dalam hubungan manusia.

Pada akhirnya, konsumerisme adalah pilihan. Kita bisa tetep jadi “budak yang bahagia” dengan cicilan yang menumpuk, atau kita mulai sadar dan ambil kendali atas hidup kita sendiri. Jangan biarkan algoritma atau tren menentukan harga diri kamu.

Karena ingat, budak yang paling menyedihkan adalah dia yang bangga akan rantai yang mengikatnya. Kamu mau jadi salah satunya?

Sumber: Dirangkum dari kuliah Prof. Jiang Xueqin “Consumerism is the Perfection of Slavery”