Generus Indonesia
Bongkar 8 Penyakit "Miskin" yang Disponsori iPhone. Gambar: Generus

Bongkar 8 Penyakit “Miskin” yang Disponsori iPhone: Kita Lagi Dibodohi atau Memang Butuh?

Oleh Muhammad Faqihna Fiddin

Pernah nggak sih kita lagi nongkrong di kafe, terus nggak sengaja ngelihat temen kita, yang kita tahu persis gajinya mentok UMR, pamer mirror selfie di toilet kantor pakai iPhone 17 Pro Max terbaru? Reaksi pertama kita pasti beragam. Ada yang langsung nge-judge, “Duh, budak gengsi banget sih!” atau “Gali lubang tutup lubang demi HP doang.” Kita merasa lebih pinter karena masih bertahan pakai HP lama yang layarnya udah retak dikit.

Tapi, jujur deh, apakah sesimpel itu? Apakah ini cuma soal pamer yang dangkal?

Ternyata, kalau kita cuma berhenti di masalah “gengsi,” kita gagal melihat musuh yang sebenarnya. Apa yang kita lihat itu cuma gejala, bukan penyakitnya. Jawabannya jauh lebih dalam dan merusak dari sekadar pamer di Instagram Story. Ini bukan soal kebodohan personal, tapi ini adalah pembajakan otak skala massal. Ada penyakit psikologis menular yang sengaja disuntikkan oleh sistem ekonomi kita saat ini untuk menjebak kelas menengah dan bawah. Kita menyebutnya: Penyakit Miskin.

Penyakit ini merusak sirkuit otak kita, membuat kita mustahil secara biologis untuk berpikir jangka panjang. Otak kita dibajak cuma buat peduli sama “hari ini” dan abai sama “tahun depan.” Dan siapa sponsor utamanya? Ya, perbudakan PayLater, circle sosial yang toxic, dan tentu saja… logo Apple tergigit itu sendiri.

Yuk, kita bedah 8 stadium penyakit miskin ini. Coba cek, jangan-jangan kita udah terinfeksi parah!

1. Stadium Satu: Rabun Masa Depan (The Scarcity Trap)

Penyakit pertama yang menyerang kita adalah Scarcity atau kelangkaan. Secara psikologis, saat kita merasa “kurang”—entah kurang uang, kurang pengakuan, atau kurang keren—otak kita masuk ke mode survival.

Bayangkan RAM di otak kita itu terbatas. Karena kita setiap hari dipusingkan dengan cara bertahan hidup (gimana bayar kosan, gimana makan sampai akhir bulan, gimana nutup lubang pinjol A dengan pinjol B), seluruh kapasitas mental kita habis. Kita jadi jagoan banget soal urusan seminggu ke depan, tapi mendadak jadi “bego” kalau disuruh mikir lima tahun ke depan.

Contoh di hidup kita: Saat bonus tahunan cair, alih-alih mikirin dana darurat atau investasi saham yang “abstrak” dan baru kerasa hasilnya 10 tahun lagi, otak kita yang sudah lelah ini minta imbalan instan. iPhone yang ada di depan mata itu nyata. Bisa dipegang, bisa dipamerin besok pagi. Akhirnya, kita menukar masa depan yang aman dengan kepuasan semu selama 15 menit saat unboxing. Kita rabun masa depan karena kita terlalu lelah dengan masa kini.

2. Stadium Dua: Takut Dihina Circle (The Peer Pressure Poison)

Vektor penularan penyakit ini adalah lingkungan kita sendiri. Sadar atau nggak, kita hidup di tengah “Perang Dingin” antar teman. Kita merasa ada tekanan tak kasat mata saat kumpul di kafe.

Pernah ngerasa malas ngeluarin HP di meja karena HP kita paling jadul? Atau ngerasa rendah diri saat mau tukaran nomor WA tapi HP kita harus dipancing kabel powerbank dulu? Kita nyicil iPhone terbaru itu 100% bukan karena butuh fitur sinematiknya, tapi karena kita takut. Takut dianggap nggak level, takut nggak relevan, dan takut dianggap “lagi susah.”

Ini ironis banget: kita beli barang yang kita nggak mampu, pakai uang yang kita nggak punya (pinjol/cicilan), demi membuat terkesan orang-orang yang sebenarnya kita nggak suka. Kita semua di dalam circle itu sebenarnya sama-sama megap-megap bayar cicilan, tapi kita saling pamer untuk menutupi ketakutan yang sama.

3. Stadium Tiga: Perbudakan PayLater (The Mathematical Delusion)

Ini adalah sponsor resmi paling berbahaya. Dulu, kalau mau beli barang mahal, kita harus menabung. Ada jeda waktu yang bikin kita berpikir, “Beneran butuh nggak ya?” Sekarang? Jeda itu dihapus oleh PayLater.

Sistem ini melatih otak kita untuk melakukan matematika sesat. Kita nggak lagi melihat harga 25 juta rupiah sebagai angka yang besar. Kita melihatnya sebagai “cuma 1,2 juta per bulan.” Angka yang kelihatan kecil ini menipu sirkuit logika kita. Kita merasa mampu, padahal kita cuma “memaksa mampu.”

Logika brutalnya begini: Begitu kita klik “Ambil Cicilan 24 Bulan,” kita sebenarnya baru saja menandatangani kontrak perbudakan. Kita sepakat untuk bekerja bagai kuda, berangkat pagi pulang malam, kena macet, dan dimarahi bos selama dua tahun ke depan hanya untuk membayar sebuah benda yang nilainya bakal anjlok 50% dalam waktu yang sama. Kita menukar kebebasan waktu kita dengan sepotong besi dan kaca.

4. Stadium Empat: Kebodohan Fungsional (Status Over Specs)

Kalau kita mau jujur, berapa banyak sih dari kita yang beneran butuh chipset A18 Pro untuk kegiatan sehari-hari? Berapa banyak yang beneran render video 4K setiap jam?

Penyakit ini bikin kita sengaja menutup mata pada fakta bahwa ada HP lain—mungkin Android flagship—yang harganya cuma 40% dari iPhone tapi punya spek lebih gila. Tapi kita nggak mau beli itu. Kenapa? Karena kita nggak beli fungsi. Kita beli status. Kita rela bayar 10-15 juta lebih mahal hanya untuk logo Apple di belakangnya.

Kita menyebutnya “eksklusif,” padahal itu cuma cara halus untuk bilang kita “korban merk.” Kita membayar mahal untuk ketidakmampuan kita menjadi diri sendiri tanpa embel-embel merk mewah. Itulah definisi kebodohan fungsional: alatnya canggih, tapi penggunanya cuma pakai buat scrolling meme yang sama.

5. Stadium Lima: Virus FOMO (The Engineered Obsolescence)

Apple adalah raja dalam menciptakan rasa “kurang.” Setiap bulan September, mereka menyebarkan virus FOMO (Fear of Missing Out) ke seluruh dunia.

Coba perhatikan: HP kita yang sekarang sebenarnya masih lancar jaya. Baterai oke, layar bening. Tapi begitu seri terbaru keluar dengan warna baru, katakanlah “Desert Titanium,” mendadak HP kita yang warnanya biru tahun lalu terasa kusam, jadul, dan “nggak banget.”

Ini adalah manipulasi psikologis tingkat dewa. Mereka nggak menjual teknologi, mereka menjual “perasaan baru.” Kita merasa tertinggal kalau nggak ikut rombongan pertama yang pakai. Padahal, kalau kita bedah secara teknis, perubahannya seringkali receh banget. Tapi karena penyakit miskin sudah merasuk, kita rela rugi jutaan rupiah saat jual HP lama demi mengejar sesuatu yang secara objektif nggak kita butuhkan.

6. Stadium Enam: Sindrom Tembok Eksklusif (The Digital Prison)

“Airdrop aja ya,” atau “Yah, fotonya jadi pecah kalau dikirim ke Android.” Pernah dengar kalimat itu? Atau malah kita yang sering ngomong gitu?

Ini adalah stadium di mana kita mulai merasa superior padahal kita sedang dipenjara. Apple sengaja membangun tembok yang sangat tinggi (ekosistem) agar kita sulit kabur. iMessage yang sengaja dibuat “eksklusif,” ekosistem iCloud yang mengunci data kita, hingga aksesoris yang cuma mau nyambung sama sesama Apple.

Bagian paling menyedihkan? Kita bangga jadi tahanan. Kita merasa keren ada di dalam penjara mewah itu. Kita rela keluar uang lagi buat beli AirPods, iWatch, dan MacBook supaya “ekosistemnya lengkap.” Padahal itu cuma cara mereka memastikan supaya setiap tetes keringat kita mengalir ke kantong mereka selamanya. Kita bukan konsumen premium, kita adalah aset yang sudah dikunci.

7. Stadium Tujuh: Alibi Buat Kerja (The Holy Lie)

Ini adalah kebohongan paling suci yang sering kita ucapkan untuk menenangkan hati yang gelisah saat gesek cicilan. “Ini buat investasi kerja kok,” “Kamera iPhone lebih bagus buat konten,” “Biar klien lebih percaya kalau liat gadget kita berkelas.”

Ayo kita konfrontasi diri sendiri dengan jujur. Beneran klien kita nggak jadi kontrak gara-gara kita pakai Android? Atau jangan-jangan kualitas kerja kita yang emang biasa aja?

90% orang yang pakai alasan ini nyatanya cuma pakai HP itu buat bales WhatsApp grup keluarga dan nonton video kucing di TikTok. Kita menciptakan alibi profesional untuk menutupi rasa lapar akan pengakuan. Kita membohongi pasangan, orang tua, bahkan diri sendiri hanya agar gengsi kita punya “payung hukum” yang terdengar logis.

8. Stadium Delapan: Kecanduan Validasi (The Dopamine Fix)

Ini adalah puncak dari segala penyakit. Di dunia yang makin keras ini, kita semua haus akan rasa berharga. Saat kita merasa gagal dalam karier atau kehidupan pribadi, iPhone terbaru menjadi “obat penenang” paling cepat.

Begitu kita taruh HP itu di meja saat nongkrong, ada sedikit ledakan dopamin di otak kita. Kita merasa “oke, gue masih dianggap.” Kita merasa menang satu langkah dari teman kita. Validasi instan ini sangat adiktif.

Tapi harganya mahal sekali. Kita membayar bunga bank yang mencekik, kita kehilangan ketenangan finansial, dan kita hidup dalam kecemasan cicilan hanya untuk mendapatkan tatapan kagum selama 5 detik dari orang asing di mall yang sebenarnya nggak peduli sama sekali tentang hidup kita. Ini bukan lagi soal gadget, ini adalah candu validasi yang merusak harga diri kita yang sebenarnya.

Jadi, Kita Mau Sampai Kapan?

Setelah membedah 8 stadium tadi, sekarang coba kita tarik napas dalam-dalam. Coba liat HP yang lagi kita pegang sekarang. Apakah benda itu alat yang membantu kita mencari uang, atau malah benda yang “memakan” uang dan masa depan kita?

Kita harus sadar bahwa kemiskinan seringkali bukan cuma soal nggak punya uang, tapi soal cara kita menghabiskan uang yang kita punya. Penyakit miskin ini membuat kita sibuk “kelihatan kaya” sampai kita nggak punya waktu dan energi lagi untuk beneran “menjadi kaya” (atau setidaknya bebas finansial).

Bayangkan kalau uang cicilan 1,5 juta per bulan itu kita alihkan ke instrumen investasi atau modal usaha kecil-kecilan selama 5 tahun. Hasilnya bisa mengubah garis hidup kita. Tapi kalau kita terus-terusan mengalirkannya ke Cupertino, Amerika, ya jangan heran kalau 10 tahun lagi kita masih di posisi yang sama: capek kerja cuma buat ganti seri HP.

Langkah kecil yang bisa kita ambil:

  1. Stop Normalisasi Cicilan: Pakai prinsip kalau nggak bisa beli cash dua kali lipat harganya, berarti kita belum mampu.
  2. Fokus Fungsi: Tanya diri sendiri, “Fitur apa di iPhone 16 yang nggak ada di HP gue sekarang dan beneran bakal nambah income gue?” Kalau jawabannya “nggak ada,” ya jangan beli.
  3. Hapus Alibi: Berhenti bohong kalau ini buat kerja. Kalau emang mau buat gaya, akui aja, dan lihat apakah gaya itu sepadan dengan penderitaan finansialnya.

Kita nggak dilarang beli barang bagus. Tapi beli barang bagus pakai uang “dingin” itu namanya self-reward. Beli barang bagus pakai uang pinjol itu namanya self-destruction.

Pilihan ada di tangan kita. Mau terus-terusan jadi “sponsor” kemewahan orang lain, atau mulai membangun kemewahan untuk diri kita sendiri di masa depan? Jangan biarkan logo apel tergigit itu juga menggigit habis masa depan kita.

Sumber: Bongkar 8 Penyakit Miskin yang Disponsori iPhone – ILMU LIDI