Oleh Fitri Utami
Pernah nggak ngerasa ada di fase hidup ketika kita merasa lelah, tapi nggak tahu persis kenapa. Bukan karena pekerjaan yang terlalu berat, bukan juga karena kurang istirahat. Lebih ke lelah karena terlalu sering memikirkan orang lain. Memikirkan ucapan mereka, sikap mereka, penilaian mereka.
Kita sibuk menafsirkan, mengoreksi, bahkan menyalahkan diri sendiri atas hal-hal yang sebenarnya berada di luar kendali. Di titik itu, hidup terasa penuh, tapi bukan oleh hal-hal yang kita inginkan.
Di tengah kelelahan semacam itu, aku menemukan satu konsep sederhana dari buku The Let Them Theory karya Mel Robbins dan Sawyer Robbins. Namanya terdengar santai, bahkan nyaris seperti kalimat pasrah: let them. Biarkan saja. Tapi justru di situlah letak kekuatannya. Karena teori ini bukan tentang menyerah, melainkan tentang berhenti bertarung di medan yang salah.
The Let Them Theory mengingatkan kita pada satu kebenaran yang sering kita abaikan: kita tidak pernah benar-benar punya kendali atas orang lain. Kita tidak bisa mengatur bagaimana mereka berpikir, bersikap, atau menilai. Yang bisa kita kendalikan hanyalah diri sendiri—terutama reaksi kita.
Maka ketika muncul kalimat, “Kuasai reaksimu, ambil kembali kekuatanmu,” rasanya seperti ditegur pelan. Bahwa selama ini, mungkin kita terlalu banyak menyerahkan kendali hidup kepada respons orang lain.
Berapa banyak energi yang habis hanya untuk menjelaskan diri sendiri? Berapa banyak malam yang terbuang untuk overthinking tentang hal-hal yang bahkan tidak pernah benar-benar ditanyakan? Saat kita terus bereaksi terhadap segalanya, tanpa sadar kita memberi orang lain kuasa atas emosi kita. Padahal, tidak semua sikap perlu dibalas, tidak semua komentar layak dijawab, dan tidak semua konflik harus dimenangkan.
Di sinilah let them bekerja. Bukan sebagai bentuk ketidakpedulian, tapi sebagai batas yang sehat. Ketika kita mulai berkata “biarkan saja”, hidup perlahan terasa lebih longgar. Pikiran punya ruang bernapas. Hati punya waktu untuk tenang. Waktu yang biasanya habis untuk menanggapi hal-hal yang melelahkan, kembali menjadi milik kita. Waktu untuk berpikir jernih, untuk bernapas tanpa beban, untuk bersenang-senang tanpa rasa bersalah, dan untuk melakukan hal-hal yang benar-benar penting bagi diri sendiri.
Seperti dalam kutipan reflektifnya, semakin sering kita berkata let them, semakin banyak waktu yang kita miliki untuk merawat diri. Merawat bukan cuma soal tubuh, tapi juga emosi yang selama ini terlalu sering diabaikan. Kita mulai sadar bahwa menjaga diri sendiri bukan egois, melainkan perlu. Karena kita tidak bisa hadir utuh untuk hidup jika terus-menerus kelelahan oleh hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan.
Bagi generasi yang hidup di tengah kebisingan media sosial, standar hidup yang serba cepat, dan tekanan untuk selalu terlihat baik-baik saja, The Let Them Theory terasa sangat relevan. Kita hidup di dunia yang penuh opini, dan sering kali merasa wajib menanggapi semuanya. Padahal, dewasa juga berarti tahu kapan harus berbicara, dan kapan harus diam tanpa merasa kalah.
Mungkin, kedewasaan bukan tentang membuktikan apa pun pada siapa pun. Tapi tentang memilih tenang, melanjutkan hidup, dan tetap setia pada diri sendiri. Karena saat kita berhenti mencoba mengontrol orang lain, di saat yang sama kita sedang belajar satu hal penting: mengambil kembali kendali atas hidup kita sendiri. Dan dari sanalah, pelan-pelan, hidup terasa lebih ringan.










Leave a Reply
View Comments