Generus Indonesia
Child Grooming: Musuh dalam Selimut yang Dilarang Agama, Yuk Kenali Modusnya. Gambar: Generus

Child Grooming: Musuh dalam Selimut yang Dilarang Agama, Yuk Kenali Modusnya!

Oleh Sabila Esfandiar

Belakangan ini, timeline media sosial kita lagi ramai banget ngebahas soal buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans. Lewat buku itu, Aurelie dengan berani spill pengalaman pribadinya (meski dibungkus dengan nama-nama samaran) yang menyentuh isu sensitif: child grooming.

Isu ini bukan cuma “drama” medsos biasa, tapi pengingat buat kita semua kalau pelaku child grooming itu nyata dan modusnya makin halus. Untuk lebih jelasnya, yuk kita bedah bareng-bareng biar makin aware!

Apa Sih Child Grooming Itu? Singkatnya, child grooming adalah upaya seseorang (biasanya lebih dewasa) untuk membangun hubungan (relasi kuasa), kepercayaan, dan ikatan emosional dengan anak di bawah umur atau remaja dengan tujuan akhir untuk melecehkan mereka. Bahasanya, mereka lagi “menanam investasi” emosional. Awalnya terasa kayak kakak-adikan atau mentor-murid yang suportif, tapi ujung-ujungnya manipulatif.

Kenapa Seseorang Bisa Terjebak? Nggak ada korban yang pengen di-grooming. Biasanya, ada beberapa faktor pemicu yang dimanfaatkan pelaku:

  • Haus Kasih Sayang: Anak muda yang merasa kurang perhatian di dalam lingkungan rumah sering jadi sasaran empuk karena pelaku bakal berperan jadi “pendengar yang baik”.
  • Kurang Literasi Digital: Chatting sama orang asing yang terlihat “keren” di sosmed tanpa tahu latar belakang aslinya.
  • Power Imbalance: Pelaku biasanya punya posisi lebih tinggi (artis, guru, tokoh agama, atau senior) sehingga korban merasa sungkan untuk menolak.

Red Flags: Ciri-Ciri Kamu (Mungkin) Sedang Di-grooming Kalau kamu merasa hubunganmu sama orang yang lebih dewasa mulai terasa “aneh”, cek tanda-tanda ini sebelum kalian terlalu dalam terjerumus dalam sebuah ikatan yang toxic tersebut. Beberapa hal yang perlu kalian perhatikan antara lain:

  • Secretive Relationship: Dia selalu minta hubungan kalian dirahasiakan dari orang tua atau teman sebaya.
  • Special Treatment: Kamu dikasih hadiah, uang, atau perhatian berlebih yang nggak masuk akal. Tiba-tiba kamu dibelikan iphone 17 padahal kamu tidak pernah memintanya. Atau tiba-tiba dibelikan jam tangan mahal atau perhiasan mewah yang mungkin tidak pernah kalian pikirkan sebelumnya.
  • Testing Boundaries: Dia mulai sering curhat soal hal-hal dewasa atau ngajak ngomongin topik seksual secara terselubung.
  • Isolasi: Pelaku pelan-pelan bikin kamu merasa cuma dia satu-satunya orang yang ngerti kamu, sehingga kamu menjauh dari circle asli kamu.

Pandangan Islam tentang Grooming Dalam Islam, menjaga kehormatan dan melindungi anak-anak adalah hal yang sangat sakral. Perilaku manipulatif yang mengarah pada kemaksiatan sangatlah dilarang karena dapat menjadikan seseorang melakukan sebuah dosa besar. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Isra: 32. “Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.”

Grooming adalah langkah awal (mendekati) sesuatu yang sangat berbahaya dan dibenci oleh Allah SWT. Selain itu, Rasulullah SAW bersabda: “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih kecil di antara kami dan tidak mengerti hak orang yang lebih tua di antara kami” (HR. Tirmidzi). Hadits di atas justru memerintahkan kepada kita untuk melindungi dan menyayangi yang muda serta menghormat kepada yang lebih tua. Menyayangi anak kecil artinya melindungi mereka, bukan mengeksploitasi mereka demi sebuah kenikmatan atau nafsu.

Gimana Cara Lepas dan Menghindar? Kalau kamu merasa sudah terlanjur “terseret” dalam hubungan beracun ini, jangan takut dan panik. Kamu nggak sendirian! Beberapa hal yang bisa kalian lakukan untuk menghindar, diantaranya:

  • Trust Your Gut: Kalau perasaanmu bilang ada yang nggak beres, biasanya itu benar. Jangan abaikan intuisi kamu.
  • Berani Bilang “TIDAK”: Kamu punya hak penuh atas tubuh dan privasimu. Jangan merasa nggak enak hanya karena dia lebih tua atau pernah berjasa terhadap kamu atau keluargamu.
  • Buka Suara: Cari orang dewasa yang kamu percaya—bisa orang tua, guru, atau konselor. Ceritain semuanya. Pelaku paling takut kalau rahasianya terbongkar. Jika sudah kelewat batas bisa juga melaporkan ke pihak berwajib agar mendapat penanganan hukum yang tepat.
  • Putus Kontak: Blokir semua akses komunikasi. Jangan kasih celah buat dia memanipulasi perasaanmu lagi dengan kata-kata manis atau ancaman. Biasanya mereka akan mengancam akan menyebarkan foto atau gambar atau video atau isi chat kamu dengan pelaku agar diketahui oleh orang tua atau keluarga dekatmu. Apabila sudah diancam seperti itu, justru ini menjadi pukulan telak bagi mereka (pelaku) karena kamu bisa melawan balik untuk dilaporkan kepada pihak berwajib dengan dalih ancaman atau pemerasan.

Belajar dari keberanian Aurelie melalui peluncuran buku yang berjudul “Broken Strings“, kita diingatkan bahwa luka itu bisa disembuhkan, tapi mencegah jauh lebih baik. Stay safe, stay smart, and protect yourself!