Oleh Budi Muhaeni
Kadang aku suka mikir sendiri: “Sebenernya, kalau hidup ini kayak game, berapa sih skor karakterku sekarang?” Apalagi kalau lihat generasi muda yang rajin mengaji seperti di majelis taklim LDII misalnya, dari kecil sampai gede—gaya hidup mereka tuh kayak “character building simulator” versi dunia nyata. Mereka dikenal militan datang ke pengajian, disiplin banget sama waktu, jaga kesucian diri, sering bilang “amal salih” kayak tagline sehari-hari, dan yang paling bikin aku senyum: anak-anak U-10 dan U-12 yang cium tangan wasit sebelum pertandingan bola. Manis banget gak sih? Kayak reminder halus kalau sportivitas itu dimulai sebelum peluit ditiup.
Tapi semua itu bukan sulap, bukan trik kamera, bukan pula hasil editing CapCut. Itu buah kecil dari kebiasaan panjang yang dibangun bertahun-tahun. Di LDII, generasi muda disebut generus—generasi penerus. Dan karakter mereka itu tumbuh bukan dari ceramah tiga menit, tapi dari sesuatu yang lebih rapi: proses pembiasaan.
Bayangin, sejak masih PAUD dan TK, mereka udah dikenalkan 29 karakter luhur. Iya, dua puluh sembilan! Buat anak umur 4–5 tahun, mungkin mereka belum ngerti teori, tapi mereka ngerti contoh. Mereka lihat, mereka tiru. Naik SD, SMP, SMA, sampai pranikah, karakter itu terus diulang, diperdalam, dilatih. Kalau Thomas Lickona yang ngomong, prosesnya ada tiga: moral knowing (tahu yang baik), moral feeling (suka dengan yang baik), dan moral action (melakukan kebaikan itu). Simpel di kertas, tapi lumayan menantang di kehidupan nyata.
Nah, dari 29 karakter itu, LDII merangkumnya jadi tiga target besar yang mereka sebut TSG — Tri Sukses Generus. Alias goal jangka panjang:
- Berakhlak mulia,
- Alim dan faqih (punya ilmu dan paham ilmunya),
- Mandiri.
Tiga kata ini kalau di-scan cepat kesannya standar, tapi kalau dipikirin lagi… ini tuh life skill yang bakal kepake dari kecil sampai tua.
Terus sisanya, 26 karakter lainnya apa? Banyak banget. Ada jujur, amanah, hemat dan giat bekerja, kerja sama yang baik, rukun, kompak, dan masih berjajar panjang kayak playlist Spotify yang nggak ada tombol shuffle-nya. Karakter ini bukan sekadar “nilai rapor”, tapi kebiasaan yang diam-diam membentuk cara mereka bersikap, ngomong, sampai ngambil keputusan di masa depan.
Yang keren adalah: pembinaan karakter ini bukan kerja satu orang. Bukan cuma tugas ustadz atau guru ngaji. Ada orang tua, pengurus masjid, pengurus pondok pesantren, kepala sekolah, tetangga, bahkan lingkungan masyarakat yang ikut jagain vibes-nya. Jadi, kalau dibilang “butuh kampung untuk membesarkan seorang anak”, LDII tuh kayak mengambil pepatah itu versi serious mode.
Untuk anak-anak PAUD, evaluasi karakternya sesimpel: bisa salam dengan benar, cium tangan guru, ngerapiin sandal sebelum masuk masjid. Itu aja udah jadi “raport karakter” mereka. Tapi makin gede, “level quest”-nya makin naik: membiasakan salam–senyum–sapa (3S), jaga sholat 5 waktu, wudhu dengan benar, gak ngebully, saling perhatian, belajar adab pertemanan, adab makan, sampai akhirnya di usia remaja-dewasa mulai belajar jadi pribadi mandiri—punya penghasilan, sisihin infak, atau mempersiapkan diri jadi calon suami/istri yang salih dan salihah.
Kedengeran intens? Boleh jadi. Tapi logikanya masuk: karakter gak bisa datang dari niat doang, tapi dari latihan ulang-ulang sampai jadi refleks. Jadi, balik ke pertanyaan awal: “Berapa skor karakterku?” Jujur, karakter itu bukan kayak nilai ujian fisika yang bisa dihitung 0–100. Tapi kalau mau jujur sama diri sendiri, kita selalu bisa ngukur: • Udah sejujur apa aku hari ini? • Masih suka ngeles kalau salah? • Udah disiplin apa soal waktu? • Apa aku tipe yang nunggu disuruh atau inisiatif? • Apa aku udah jadi orang yang bikin lingkungan lebih enak ditempati? • Apa aku udah mandiri atau masih nunggu dimanjain keadaan?
Kadang jawaban-jawaban itu bikin kita berkaca: “Kayaknya skorku masih jauh dari level next.” Tapi santai. Karakter bukan lomba lari 100 meter—lebih kayak marathon. Kita tumbuh pelan tapi pasti.
Pada akhirnya, semua langkah pembinaan karakter di LDII itu sebenarnya satu hal: upaya memantaskan diri. Karena hidup itu nggak cuma soal kerja keras, tapi juga soal kelayakan yang kita bangun. Jodoh yang baik, rezeki yang luas, takdir yang indah—semuanya sering menuntut kita jadi pribadi yang layak menerimanya.
How high you wanna be, how good you should be. Mau terbang setinggi apa pun, fondasinya tetap karakter. Dan mungkin, sebelum tidur malam ini, kita bisa nanya pelan ke diri sendiri: “Berapa skor karakterku hari ini? Dan besok, mau kutingkatkan di bagian yang mana?” Jawaban jujur itu, mungkin adalah awal dari versi terbaik diri kita yang akan datang. (BM)










Leave a Reply
View Comments