Generus Indonesia
Ternyata Berorganisasi Bisa Jadi Bekal Membina Rumah Tangga. Gambar: Generus

Ternyata Berorganisasi Bisa Jadi Bekal Membina Rumah Tangga

Oleh Yuliarto DH

Kebanyakan orang menganggap kesiapan menikah itu diukur dari usia dan pekerjaan. ”Berpenghasilan dan usia sudah mencukupi — berarti sudah siap menikah.” Padahal, kesiapan menikah bukan hanya diukur dari materi dan usia saja serta keinginan untuk tinggal bersama. Tetapi juga, tentang dua pribadi yang siap untuk bertumbuh — bersama.

Untuk bisa bertumbuh bersama, mereka perlu memiliki keterampilan hidup. Bukan sekedar pintar dalam percintaan dan tanggung jawab saja, namun harus terlatih juga dalam menghadapi yang namanya perbedaan pendapat, bagaimana cara mengontrol dan mengelola diri, serta cara menyikapi suatu permasalahan dan penyelesaiannya seperti apa, dan sebagainya.

Dan uniknya, hal penting seperti itu dipelajari bukan dari teori pernikahan, melainkan dari sebuah pengalaman sederhana, yakni berorganisasi. Dengan kita ikut berorganisasi, kita dihadapkan dengan berbagai macam karakter yang berbeda-beda. Ada yang keras kepala, ada pula yang terlalu lembut. Ada juga cekatan, tapi ada juga yang gampang menyerah ketika dihadapkan dengan suatu masalah.

Dari situlah, kita mulai belajar dan memahami beraneka ragam karakter orang— Belajar untuk menahan diri, menyampaikan pendapat tanpa melukai, dan tetap menghargai pendapat orang.

Dari organisasi juga, kita belajar berkomunikasi secara efektif — Belajar berbicara agar dipahami, bukan sekadar didengar; Belajar manajemen konflik, meskipun beda pandangan, tapi tak jadi pertengkaran; Belajar mengendalikan emosi, meskipun kesal, tapi tak langsung dilampiaskan; Belajar empati dan mendengar, seperti memahami dulu sebelum menilai.

Terkadang organisasi menjadi tempat pertama bagi kita untuk belajar tanggung jawab dan komitmen — hadir rapat sesuai kesepakatan bersama, menyelesaikan tugas sesuai deadline, dan tetap hadir meski sedang tidak bersemangat. Di organisasi juga kita berlatih untuk sabar dan tekun, karena tidak semua usaha langsung dihargai, dan tidak semua rencana berjalan sesuai keinginan.

Belajar mengambil keputusan bersama, bukan mendikte. Membiasakan diri untuk berdiskusi, mencari titik tengah, karena hasil yang baik kebanyakan lahir dari proses saling mengalah dengan bijak.

Pelan-pelan, kita mulai terlatih mengatur waktu dan prioritas — belajar menyeimbangkan antara tugas, keluarga, dan dirinya sendiri. Membangun disiplin dan konsistensi, agar tidak mudah goyah saat lelah atau kecewa.

Dan yang paling penting, kita banyak belajar pentingnya bekerjasama dan saling mendukung. Dalam tim, bukan soal siapa yang paling benar, tapi bagaimana tetap bergerak bersama meski sedang tidak sejalan. Kalau dipikir-pikir, bukankah itu juga cerminan dari kehidupan rumah tangga?

Pernikahan bukan soal siapa yang berkuasa, tapi siapa yang mau belajar saling memahami. Bukan soal siapa yang paling benar, tapi siapa yang mau menenangkan diri dulu agar bisa mencari jalan tengah.

Dan semua itu… bisa dimulai dari hal sederhana: menjadi bagian dari organisasi, kepanitiaan, atau tim kecil. Jadi, sebelum terburu-buru menikah atau menikahkan, ada baiknya kita lebih dulu diberi kesempatan untuk belajar hidup bersama orang lain. Bukan sekadar jadi peserta yang datang dan pulang, tapi benar-benar terlibat, bekerja sama, bertanggung jawab, dan menyelesaikan tugas bersama.

Sebab, dari sanalah kita belajar menjadi pribadi yang matang — yang tidak hanya ingin dicintai, tapi juga siap mencintai dengan dewasa. Yang tidak hanya ingin dimengerti, tapi juga mampu memahami. Yang tidak hanya ingin memimpin, tapi juga siap diajak tumbuh bersama.

Karena kesiapan menikah bukan tentang usia yang cukup, tetapi tentang hati yang siap menghadapi dinamika kehidupan berdua.