Generus
Pelan-pelan aku bertahan. Gambar: Generus

Pelan-Pelan, Aku Bertahan

oleh Ginakalu

Aku lahir sebagai anak pertama. Perempuan. Kalimat sederhana yang entah sejak kapan terasa seperti beban. Ada kewajiban yang tak pernah diucapkan tapi terus menempel: harus bisa lebih dulu, harus kuat lebih lama, harus mengerti bahkan sebelum dijelaskan. Seolah dunia memberi daftar panjang tanggung jawab sebelum sempat ku tahu rasanya menjadi kecil dan bebas.

Sejak kecil aku belajar menelan tangis sebelum air mata sempat jatuh. Belajar berbicara dalam diam, berdialog dengan pikiran sendiri. Tak ada ruang untuk lemah. Tak ada pelukan saat bingung. Tak ada suara yang bertanya, “kamu kenapa?” sebelum aku belajar menjawab sendiri, “aku ngga apa-apa kok”.

Mungkin bukan karena tak ada yang peduli, tapi karena semua sibuk menuntutku jadi versi paling kuat dari diri yang belum sempat tumbuh.

Aku berusaha menjadi anak baik. Nilai-nilaiku biasa, prestasiku pun begitu. Aku bukan anak pertama yang layak diceritakan dalam arisan keluarga besar. Tapi aku bertahan—itu saja yang kupunya. Dari sunyi aku belajar. Dari luka aku tumbuh. Dari diam aku mengenali diriku sendiri. Lalu hidup mempertemukanku dengan Lala.

Pertemuan yang sederhana—tanpa gemuruh, tanpa banyak tanya. Tapi di hadapannya, aku merasa dilihat. Ia tidak menyuruhku kuat, tapi membuatku nyaman untuk rapuh.

Kami melukis bersama di trotoar CFD Slamet Riyadi, membiarkan matahari pagi menempel di kulit dan tawa kami. Malamnya, kami menonton D’Cinnamons di Kulonuwun Kopi, menyeruput kopi hangat yang menenangkan. Tak ada yang tahu, itu akan menjadi malam terakhir bersamanya. Beberapa minggu kemudian, kabar itu datang seperti angin yang mematikan lilin. Lala pergi. Bukan ke Lombok seperti janjinya, tapi ke tempat yang tak bisa kuikuti dengan langkah apa pun.

Dunia mendadak senyap. Aku kehilangan bukan hanya sahabat, tapi rumah bagi pikiranku yang berantakan. Saat aku pindah ke Jogja—memulai hidup dan pekerjaan baru—Tuhan justru mengambil satu-satunya pegangan yang membuatku tetap waras. Hari-hari setelahnya, aku seperti manusia yang berjalan tanpa kompas. Dunia tetap sibuk, tapi aku berhenti di tengah-tengah. Jogja menyembuhkanku pelan-pelan.

Langitnya teduh, kabut subuhnya seperti napas panjang setelah tangis panjang. Adzan dari masjid kecil di ujung gang menjadi tanda bahwa pagi masih ada, bahwa hidup masih mau menunggu. Bumi memelukku diam-diam, lewat angin yang mengusap, lewat cahaya yang menetes dari sela dedaunan. Di kota ini, aku belajar berdamai—dengan kehilangan, dengan peran, dengan luka yang tak bisa dihapus.

Aku belum bisa bilang aku sudah pulih. Tapi aku belajar menerima bahwa tidak semua yang patah harus disembuhkan. Beberapa hanya perlu dipeluk sampai tak lagi terasa sakit. Kini aku berjalan lebih lambat, bukan karena lemah, tapi karena aku ingin merasakan setiap langkah. Aku tahu kehilangan bisa datang kapan saja. Aku tidak ingin lagi tergesa-gesa hidup. Kadang, saat malam turun dan langit Jogja berwarna ungu, aku berbicara dengan diriku sendiri. “Aku tidak tahu kenapa aku dilahirkan,” kataku pelan, “tapi aku belajar untuk bertahan, meskipun tidak tahu untuk apa.”

Dan entah mengapa, bumi selalu menjawab lewat caranya sendiri—dengan sepi yang menenangkan, dengan udara yang berbisik lembut: Masih ada hari esok. Masih ada hidup yang menunggu untuk kamu cintai.

Aku tidak tahu apakah aku akan menemukan seseorang yang mau berjalan bersamaku—seseorang yang tidak ingin menyembuhkan, hanya ingin menemani. Tapi jika saat itu tiba, aku ingin kami berjalan di atas tanah yang sama: bumi yang menjadi saksi tawa, air mata, dan segala upaya untuk tetap hidup dengan jujur.

Untuk sekarang, aku hanya ingin terus hidup. Dengan peluk, dengan rindu, dengan syukur, juga dengan luka. Karena mungkin, bertahan—dengan caraku sendiri—sudah cukup untuk disebut bahagia.