Generus Indonesia
Pesantren dan Masa Depan Indonesia. Gambar: Generus

Pesantren dan Masa Depan Generasi Indonesia

Oleh Arya Yudha Wicaksono

Di tengah derasnya arus globalisasi dan krisis moral yang melanda berbagai lini kehidupan bangsa, banyak orang kembali menoleh pada satu sumber nilai yang tak lekang oleh waktu yaitu pesantren.

Di saat dunia modern berlomba-lomba mengejar efisiensi dan teknologi, pesantren justru menawarkan keseimbangan antara spiritualitas dan kemanusiaan. Dari ruang-ruang kecil berlantai tanah hingga kompleks pendidikan modern, pesantren tetap menjadi penjaga nurani bangsa sekaligus penanam nilai-nilai kebangsaan.

Jika melihat kondisi sosial masyarakat yang ada di Indonesia pasti tidak akan jauh-jauh dari Islam dan kultur budaya Islam, utamanya budaya dan metode belajar umat Islam yaitu “pesantren nusantara”. Budaya ini sudah mengakar kuat jauh sebelum Indonesia merdeka.

Sejarah mencatat, pesantren sudah eksis jauh sebelum berdirinya negara ini. Sejak abad ke-15, lembaga pendidikan Islam seperti pesantren menjadi pusat penyebaran Islam dan pendidikan rakyat.

Para kiai kala itu bukan hanya sebagai guru agama, tetapi juga tokoh masyarakat yang menjadi penuntun moral masyarakat dan penjaga identitas bangsa. Pesantren telah hadir dan eksis sebagai pusat pendidikan dan poros utama pembentukan karakter bangsa dari dahulu hingga sekarang.

Dari ruang-ruang sederhana, para santri tidak hanya menimba ilmu, namun juga menanamkan disiplin, dan membentuk kepribadian yang berakar pada nilai-nilai langit (keimanan) dan nilai bumi (kejujuran, kesederhanaan, dan kepedulian terhadap sesama).

Pesantren dan santri selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi Indonesia, mereka ikut memperjuangkan kemerdekaan, menjaga persatuan, hingga kini tetap konsisten mencetak manusia yang berkarakter, sebagai bukti nyata banyak tokoh-tokoh nasional lahir dari rahim pesantren nusantara.

Dalam konteks modern, semangat itu tidak berhenti di ruang ibadah tapi lebih luas lagi. Dunia pesantren kini menegaskan bahwa pendidikan agama harus hidup di tengah realitas sosial dan dinamika masyarakat.

Nilai-nilai ini berpijak pada firman Allah, “Dan katakanlah: bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah [9]: 105).

Ayat ini menegaskan bahwa kerja keras, tanggung jawab, dan kontribusi sosial adalah bagian dari ibadah. Maka lahirlah konsep profesional religius yakni perpaduan antara kecakapan duniawi dan keteguhan spiritual. Seorang santri dituntut untuk cerdas secara intelektual, terampil, profesional, serta bermoral.

Prinsip ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. An-Nisa [4]: 58, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.”

Amanah dan keadilan inilah dua nilai utama yang menjadikan profesionalitas bernilai ibadah. Konsep profesional religius inilah yang menjadi wajah baru santri masa kini generasi yang tidak hanya saleh dalam ibadah, tetapi juga unggul dalam kontribusi.

Seorang santri yang profesional religius mampu menyeimbangkan antara kemampuan teknis dan nilai-nilai spiritual, menjadikan setiap pekerjaan bukan sekadar rutinitas duniawi, tetapi sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Konsep ini meneladani prinsip “al ilmu bila ‘amal kassyajari bila tsamar” ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah.

Konsep profesional religius mengacu kepada “Tri Sukses Generasi Penerus” bangsa, yakni: berakhlak mulia, alim-faqih, dan mandiri. Artinya sebagai orang yang beriman, ia memiliki akhlak yang baik atau saleh secara pribadi dan sosial. Sekaligus memiliki pemahaman agama yang kuat dan mandiri. Secara individu, ia memiliki etos kerja yang jujur, tangguh, serta penuh tanggung jawab, sembari menjaga kesucian hati dan niat.

Namun tengah derasnya arus globalisasi, pesantren dan santri menghadapi tantangan baru berupa revolusi digital, perubahan sosial, hingga krisis moral yang menjadi ujian generasi muda terutama santri, yang menuntut adaptasi tanpa kehilangan roh spiritual. Berdasarkan data Kementerian Agama RI (2024), terdapat lebih dari 40.000 pesantren di seluruh Indonesia dengan lebih dari 5 juta santri aktif, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan jumlah pesantren terbesar di dunia. Angka ini menunjukkan betapa besar potensi pesantren sebagai pilar pembangunan sumber daya manusia yang berkarakter dan berdaya saing.

Pada kondisi saat ini pesantren dituntut berani untuk berinovasi tanpa meninggalkan tradisi. Santri masa kini harus mampu menjembatani nilai dunia dan akhirat, menghadirkan ilmu agama dalam ruang teknologi, bisnis, dan sosial kemasyarakatan.

Rasulullah bersabda, “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad). Hadits ini menjadi pengingat bahwa tujuan akhir dari ilmu bukanlah untuk diri sendiri, melainkan kebermanfaatan bagi umat atau masyarakat secara umum. Maka dari itu, profesional religius bukan hanya konsep, tetapi arah gerak masa depan pesantren Indonesia.

Model ini adalah jembatan antara iman dan ilmu, antara spiritualitas dan produktivitas. Pesantren yang mampu menanamkan nilai ini akan melahirkan generasi yang tidak hanya mampu bersaing di kancah global, tetapi juga tetap berpijak pada nilai-nilai ilahi.

Di tangan santri profesional religius inilah, masa depan bangsa harus berakhlak, berilmu, dan berdaya serta terus tumbuh dan menerangi bangsa Indonesia.