Oleh Fitri Utami
Dulu, setiap pagi terasa penuh energi. Alarm berbunyi, mata terbuka, dan dunia seakan menunggu kita untuk membuat sesuatu yang besar. Ide-ide muncul begitu saja, tangan ingin menulis, menggambar, belajar hal baru, atau memulai proyek kecil yang terasa penting. Bahkan hal-hal sederhana—menatap buku baru, mengetik di laptop, menulis catatan kecil—dapat membuat jantung berdebar karena rasa semangat yang tulus dan hangat.
Sekarang, semuanya terasa berbeda. Bangun pagi terasa berat, dan alat-alat yang dulu memicu antusiasme kini hanya terlihat biasa. Hobi yang dulu menghidupkan energi sekarang terasa seperti beban tambahan. Kita mencoba memulai, tapi tangan malas bergerak, mata cepat lelah, dan hati terasa hampa. Kita pun bertanya pada diri sendiri, “Kenapa semangatku hilang? Apa aku kehilangan semua yang dulu membuatku hidup?”
Kehilangan excitement bukan tanda kegagalan. Semua orang pasti pernah melewati fase ketika energi turun, motivasi memudar, dan dunia terasa berat. Kehidupan modern dengan tuntutan yang cepat, sosial media yang menampilkan produktivitas orang lain, dan ekspektasi diri sendiri bisa membuat kita merasa lambat atau tertinggal. Padahal ritme hidup setiap orang berbeda, dan tidak semua orang menempuh jalannya dengan langkah yang sama.
Allah berfirman:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa kehilangan semangat bukan berarti kita gagal. Mungkin tubuh dan hati sedang lelah, dan itu wajar. Kadang kita terlalu memaksakan diri untuk terlihat produktif, padahal tubuh dan pikiran punya batas. Energi habis, motivasi turun, dan rasa bersalah muncul karena merasa “tidak cukup.” Padahal, istirahat dan jeda justru menjaga semangat itu tetap hidup, walau dalam bentuk yang berbeda.
Sering kali, hilangnya passion juga berarti hati sedang bergeser. Kita tumbuh, prioritas berubah, dan dunia di sekitar kita ikut bergerak. Apa yang dulu membangkitkan semangat kini mungkin bukan lagi yang kita butuhkan. Fase ini bukan kegagalan, tapi bagian dari proses. Ia memberi ruang bagi hal-hal baru yang lebih sesuai dengan kita hari ini. Excitement yang pudar bukan berarti mati namun hanya menunggu momen yang tepat untuk kembali menyala, mungkin dengan cara yang berbeda.
Dan meskipun semangat itu memudar, masih ada kesempatan untuk menyalakan kembali percikan kecil itu. Melalui langkah-langkah sederhana sehari-hari, melalui niat yang tulus, melalui menerima fase ini dengan lapang hati, kita bisa menemukan kembali arti semangat yang lebih matang. Kita belajar bahwa tidak semua hari harus penuh energi, dan tidak semua hobi harus terus menyala. Yang penting adalah terus berjalan, meski pelan, dan tetap konsisten dengan niat yang lurus.
Passion boleh datang dan pergi, tapi diri kita tetap utuh. Setiap fase, setiap kehilangan excitement, adalah bagian dari perjalanan hidup yang lebih besar. Dan suatu hari nanti, kita akan tersenyum menyadari bahwa yang hilang bukan semangat kita… hanya bentuknya yang sementara berbeda.
Pelan-pelan, semua ada masanya. Kita tidak tertinggal. Kita hanya sedang tumbuh, menata ulang, dan menemukan versi diri yang baru.










Leave a Reply
View Comments