Generus Indonesia
Dakwah Ekologis Jadi Solusi Krisis Lingkungan. Gambar: Generus

Dakwah Ekologis Jadi Solusi Krisis Lingkungan

Banjir bandang yang melanda Aceh dan Sumatera Utara pada akhir November 2025 menelan korban jiwa dan merusak ribuan rumah warga. Bencana ini bukan sekadar dampak hujan ekstrem, tetapi juga akumulasi panjang kerusakan lingkungan yang belum tertangani serius.

Dampaknya nggak main-main: ratusan nyawa melayang, ribuan rumah rusak, dan jutaan orang harus menghadapi ketidakpastian hidup, mulai dari kehilangan tempat tinggal hingga terbatasnya akses air bersih. Peristiwa ini menegaskan bahwa krisis lingkungan di Indonesia bukan isu jauh, melainkan kenyataan yang hadir di depan mata.

Guru Besar Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Prof. Sudarsono mengungkapkan krisis lingkungan global kini kian nyata. Perubahan iklim, deforestasi, polusi udara, pencemaran sungai, dan hilangnya biodiversitas bukan lagi sekadar wacana akademis, melainkan realitas sehari-hari.

Hujan deras memang sering datang tiba-tiba, tetapi kerusakan alam terbentuk secara perlahan. Hutan yang berkurang, sungai yang kehilangan ruang, dan daerah resapan yang rusak membuat lanskap tak lagi mampu menahan air. Saat hujan turun, risiko bencana pun langsung melonjak.

Indonesia, negeri yang dikenal sebagai paru-paru dunia dengan hutan tropisnya, kini menghadapi banjir tahunan, longsor yang merenggut nyawa, serta kabut asap yang menutup langit, “Semua ini bukan hanya masalah teknis, melainkan juga masalah moral dan spiritual,” ungkapnya.

Bagi generasi muda, situasi ini terasa semakin dekat. Banjir, polusi udara, dan cuaca ekstrem bukan sekadar berita, tetapi pengalaman sehari-hari. Dampaknya menyentuh sekolah yang terhenti, pekerjaan yang terganggu, hingga kesehatan yang terancam. Isu lingkungan tak lagi bisa dipisahkan dari persoalan masa depan.

Ia mendorong pendekatan dakwah ekologis sebagai salah satu cara membaca dan merespons krisis. Menurutnya, agama memiliki peran strategis untuk membentuk kesadaran dan perilaku kolektif, bukan sekadar memberi penilaian moral.

Dalam ajaran Islam, manusia disebut sebagai khalifah fil-ardh, yakni penjaga bumi. Posisi ini bukan sekadar gelar, melainkan amanah, “Manusia boleh memanfaatkan alam, tapi pada saat yang sama berkewajiban menjaga keseimbangannya. Ketika alam rusak, itu tanda amanah tidak dijalankan dengan baik,” kata dia.

Dakwah ekologis, dalam pengertian ini, tidak berhenti pada ceramah. Ia mendorong perubahan nyata dalam cara hidup: memperlakukan sungai dengan lebih hormat, mengelola sampah secara bertanggung jawab, dan tidak lagi memandang alam semata sebagai objek eksploitasi.

Pendekatan semacam ini dinilai relevan dengan cara generasi muda memandang isu publik lebih kritis, berbasis dampak, dan tidak mudah menerima jargon. Yang dicari bukan sekadar narasi besar, tetapi konsistensi tindakan.

“Dakwah harus turun ke realitas. Bukan hanya soal ibadah ritual, tetapi juga membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah itu sendiri,” ujar Prof. Sudarsono.

Sejumlah organisasi masyarakat mulai bergerak ke arah ini. LDII, misalnya, sejak 2012 mendeklarasikan diri sebagai ormas Islam peduli lingkungan. Program penanaman pohon, kerja bakti lingkungan, hingga gerakan pengurangan sampah dijalankan sebagai bentuk dakwah bil-haal dakwah melalui tindakan langsung.

Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa nilai agama dan kepedulian lingkungan tidak harus berjalan terpisah. Keduanya justru dapat saling menguatkan ketika diterjemahkan ke dalam aksi yang sederhana, konsisten, dan melibatkan banyak orang.

Banjir Aceh dan Sumatera Utara menjadi pengingat bahwa krisis lingkungan tidak lahir dalam satu malam. Namun terbentuk dari akumulasi keputusan manusia, sedikit demi sedikit, dalam waktu panjang. Karena itu, jalan keluar pun menuntut kesadaran jangka panjang.

Di tengah situasi ini, dakwah ekologis hadir sebagai ajakan untuk berhenti sejenak dan meninjau ulang hubungan manusia dengan alam. Bukan dengan kepanikan, melainkan dengan tanggung jawab.

Bagi generasi muda, pertanyaannya bukan lagi apakah isu lingkungan penting, itu sudah jelas. Pertanyaannya adalah apa yang bisa dilakukan, dan sejauh mana kesediaan untuk terlibat: dalam pilihan kecil sehari-hari, dalam kebiasaan, dan dalam keberanian untuk peduli.

Karena jika tidak, hujan berikutnya mungkin hanya akan mengulang cerita yang sama, dengan dampak yang semakin besar.