Generus Indonesia
Ketika 'Spill' di Medsos Jadi Bumerang Privasi. Gambar: Generus

Ketika ‘Spill’ di Medsos Jadi Bumerang Privasi

Oleh Sabila Esfandiar

Kasus viral hilangnya tumbler di KRL ini beneran jadi kejadian nyata yang serem buat kita semua. Awalnya, ini cuma masalah service complaint biasa di ruang publik, saat si pemilik merasa haknya sebagai penumpang tercederai karena barangnya hilang, dan ada indikasi bahwa integritas petugas dipertanyakan.

Wajar dong jika si pemilik tumbler komplain? Tentu saja marah, akan tetapi kita juga tidak bisa serta merta melihat kejadian ini dari satu sudut pandang saja. Di era “hukum rimba” digital seperti sekarang ini, narasinya berubah total ketika empati diabaikan.

Masalah meledak pada saat plot twist muncul. Ya, atas pengakuan dari petugas yang merasa bahwa hilangnya tumbler terjadi saat ia berdinas maka sentimen masyarakat berbalik 180 derajat. Apalagi ketika konon petugas tersebut sudah melakukan usaha nyariin, nawarin ganti rugi pakai uang pribadi, sampai mau bikin laporan polisi, malah dikabarkan kena pecat.

Sementara itu, si pemilik tumbler yang menolak tawaran damai itu malah memilih ghosting. Di sinilah “pengadilan jalanan” dimulai. Warganet Indonesia yang memiliki sense of justice tinggi buat kaum pekerja dan wong cilik, langsung disetel menjadi mode beast.

Yang terjadi selanjutnya adalah pergeseran ekstrem dari diskusi layanan publik menjadi serangan privasi yang brutal. Identitas si pemilik tumbler dikuliti, foto-fotonya disebar, dan jejak digitalnya diaudit massal (doxing). Ini pelajaran keras saat lo mutusin buat membagikan kejadian yang menimpa diri pribadi di ranah media sosial (ruang publik) dengan narasi yang berpotensi mematikan rezeki orang lain, lo secara nggak langsung “menyerahkan” privasi lo buat dihakimi balik. Ruang publik kini berubah menjadi pengadilan massal atas sebuah wilayah privasi seseorang.

Publik nggak lagi peduli soal tumbler hilang itu. Fokus mereka berubah kepada peduli soal attitude. Ketika lo gagal nunjukin empati di dunia maya maka tak butuh waktu lama, warganet Indonesia bakal nyerang “privasi” lo di dunia maya.

Menakutkan? Yes. But that’s the price of clashing with the internet’s moral compass. Jadi, lebih bijak lagi dalam bermedia sosial ya guys! Ingat, tak ada ruang privasi di wilayah publik (media sosial) yang benar-benar aman dari serangan dan perundungan oleh warga net. Jika memang niatnya komplain terhadap kuakitas pelayanan sebuah produk, maka gunakan jalur komplain yang tepat.