Oleh Muhammad Faqihna Fiddin
Gue yakin, kebanyakan dari lo yang pernah dengar nama Franz Kafka pasti langsung teringat sama satu judul ini: The Metamorphosis. Jujur aja, waktu pertama kali baca, gue kira ini cuma cerita horor fantasi tentang kutukan atau semacamnya. Tapi ternyata, oh boy, gue salah besar.
Kisah tentang Gregor Samsa ini tuh ibarat kaca pembesar yang diletakkan di atas sisi paling busuk dari hubungan manusia, pekerjaan, dan keluarga. Ini bukan soal gimana dia berubah jadi serangga, tapi lebih ke apa yang terjadi setelahnya.
Lo tahu gak sih, kita hidup di dunia yang gila akan produktivitas. Nilai diri kita sering banget diukur dari seberapa banyak uang yang kita hasilkan, seberapa berguna kita buat orang lain. Dan di sinilah Kafka main. Dia mengambil konsep itu, memutarbalikkannya dengan cara yang paling absurd—dengan mengubah Gregor Samsa, seorang salesman rajin yang jadi tulang punggung keluarga, menjadi makhluk yang paling menjijikkan dan tidak berguna.
Gue gak akan bahas spoiler mendetail di awal ini, tapi satu hal yang harus lo tanamkan sebelum kita bedah lebih dalam: Metamorphosis adalah studi kasus yang bikin kita mikir, sampai sejauh mana cinta dan support itu berlaku kalau lo udah gak bisa lagi ngasih apa-apa?
Siap-siap ya, karena bagian selanjutnya ini bakal ngebahas bagaimana transformasi fisik Gregor itu cuma permulaan, dan perubahan yang paling mengerikan justru terjadi pada orang-orang di sekitarnya. Oiya, ini tulisan reflektif pribadi penulis aja ya. Jadi sesuai dengan pengalaman empiris yang gue punya.
1. Burnout yang Berubah Jadi Monster
Awalnya, pas baca kalimat pembuka yang terkenal itu, “As Gregor Samsa awoke one morning from uneasy dreams he found himself transformed in his bed into a gigantic insect,” gue langsung mikir, “Gila, ini seriusan? Kafka gak pakai basa-basi.” Itu dia intinya. Transformasi Gregor itu absurd banget, tapi cara dia dan keluarganya menyikapi dengan matter-of-fact itu justru yang bikin ceritanya sangat manusiawi.
Bayangin, lo bangun tidur, badan lo berubah jadi kecoa raksasa (atau semacamnya), tapi kekhawatiran pertama lo adalah telat kerja. That’s Gregor Samsa in a nutshell. Dia itu traveling salesman, tulang punggung keluarga. Dia kerja banting tulang, hidupnya stres, cuma buat bayar utang orang tua dan menafkahi mereka.
Poin yang Gue Pelajari: Identitas dan Utilitas
Lo tahu gak sih, sebelum jadi serangga, identitas Gregor itu apa? Pencari nafkah. Mesin uang. Keluarga Samsa hidup nyaman karena dia. Di mata mereka, Gregor bukan Gregor, tapi sumber daya.
Begitu dia berubah jadi serangga, utilitas-nya nol. Bahkan minus, karena sekarang dia jadi beban. Dan di situ, kita lihat sisi kelam hubungan keluarga yang didasari transaksi, bukan cinta tanpa syarat.
- Sebelum Transformasi: Gregor itu Penyedia.
- Setelah Transformasi: Gregor itu Parasit/Beban.
Saat lo gak lagi bisa ngasih apa-apa, lo masih dianggap siapa? Buat Gregor, jawabannya jelas: monster.
2. Hubungan Keluarga yang Penuh Racun
Bagian yang paling bikin gue nyesek itu adalah melihat dinamika keluarga Samsa. Awalnya, ada Grete, adiknya, yang masih mau peduli. Dia yang bawa makanan, dia yang bersih-bersih kamar. Lo pikir, “Ah, masih ada harapan.”
Tapi seiring waktu berjalan, seiring mereka harus kerja keras lagi, rasa jijik dan lelah itu perlahan menggantikan rasa sayang.
Poin yang Gue Pelajari: Rasa Kasihan Punya Batas Waktu
Lo lihat Grete. Awalnya dia peduli, tapi lama-lama dia jadi resentful (kesal/dendam). Dia mulai ngurusin Gregor dengan asal-asalan, bahkan akhirnya dia yang teriak, “Kita harus singkirin monster ini!”
Gue mikir, ini bukan cuma tentang kecoa, ini tentang orang sakit kronis, tentang anggota keluarga yang kena phk dan depresi, atau tentang siapa pun yang mendadak gak bisa berkontribusi lagi. Rasa kasihan itu fana. Kalau lo terus-terusan jadi beban, lama-lama lo bakal dilihat bukan sebagai orang yang kita sayang dan lagi kesusahan, tapi sebagai penyebab masalah.
Bahkan, saat Bapak Samsa melempar apel ke punggung Gregor sampai apel itu nancap dan bikin Gregor terluka parah, itu adalah simbol penolakan paling brutal dari sosok ayah yang seharusnya melindungi. Ayahnya melihat serangga, bukan anaknya. Ayahnya melihat utang yang tak terbayar, bukan Gregor.
3. Isolasi dan Dehumanisasi
Kamar Gregor itu bukan cuma kamar tidur, tapi perlahan-lahan jadi penjara dan makam-nya. Dia dikunci. Komunikasi putus total. Bahkan saat Grete dan ibunya memutuskan memindahkan perabotan biar Gregor bisa merangkak lebih leluasa, itu justru bikin Gregor sedih. Kenapa? Karena perabotan itu adalah sisa-sisa terakhir dari kehidupan manusianya.
Lukisan cewek berbulu yang dia sayang, meja, lemari—itu semua adalah jangkar yang menahan dia dari totalitas menjadi serangga. Saat itu semua diambil, seolah-olah keluarganya bilang, “Udah, gak usah pura-pura jadi manusia lagi. Lo sekarang cuma serangga.”
Poin yang Gue Pelajari: Makna Menjadi Manusia
Di dalam isolasinya, Gregor mulai belajar menjadi serangga. Dia suka merangkak di dinding dan langit-langit. Dia makan makanan busuk. Dia bersembunyi di bawah sofa. Tapi anehnya, jiwa manusianya masih ada.
Saat dia dengar Grete main biola untuk para penghuni sewa (yang didatangkan keluarganya buat nambah penghasilan), Gregor keluar karena tertarik pada musik. Musik itu salah satu ekspresi tertinggi kemanusiaan. Dalam bentuk serangga, dia masih bisa menghargai seni. Dia berharap, dengan dia muncul, keluarganya akan sadar, “Oh, ini Gregor, dia masih ada di dalam monster ini.”
Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Para penghuni sewa ketakutan, Grete jijik, dan keluarganya panik. Keindahan musiknya Grete justru jadi pemicu penolakan final terhadap Gregor.
Ini pertanyaan yang harus kita renungkan: Apa yang bikin kita tetap jadi manusia? Apakah penampilan fisik kita? Atau kemampuan kita untuk bekerja dan menghasilkan uang? Kafka seolah bilang, kemanusiaan itu bisa dicabut hanya karena lo berbeda atau gak berguna lagi.
4. Kematian dan Kelegaan yang Pahit
Akhir kisah ini brutal sekaligus ironis. Gregor, terluka, kelaparan (karena dia gak mau makan makanan yang dibawa Grete lagi, sebagai bentuk “pengorbanan” terakhirnya), dan merasa tidak diinginkan, kembali ke kamarnya dan meninggal.
Kematiannya itu sangat sunyi, gak heroik sama sekali.
Dan yang paling menyakitkan, keluarganya? Mereka lega.
Mereka gak nangis, gak meratap. Mereka malah bersyukur, “Terima kasih, masalah kita sudah hilang.” Begitu si pembantu rumah tangga (yang paling gak takut sama Gregor) buang mayatnya, mereka memutuskan buat liburan sebentar, menikmati hari cerah, dan mulai merencanakan masa depan mereka. Mereka bahkan melihat Grete, yang sekarang sudah dewasa dan cantik, sebagai potensi untuk dinikahkan, mungkin untuk mencari sumber daya baru.
Poin yang Gue Pelajari: The Kafkaesque Vibe
Kisah Gregor ini adalah contoh sempurna dari apa yang disebut Kafkaesque: sebuah situasi yang absurd, mengerikan, dan membuat frustrasi, di mana individu itu dihancurkan oleh kekuatan birokrasi, sistem, atau bahkan keluarganya sendiri, tanpa alasan yang jelas atau logis.
Buat gue, Metamorphosis itu bukan cerita horor tentang serangga. Itu adalah cermin gelap tentang:
- Alienasi/Keterasingan: Gimana lo bisa ngerasa asing di rumah lo sendiri, bahkan dalam tubuh lo sendiri.
- Kapitalisme dan Dehumanisasi: Nilai lo diukur dari seberapa produktif lo. Begitu lo gak produktif, lo gak berharga.
- Kondisi Cinta yang Bersyarat: Cinta dan support dari keluarga bisa hilang kalau lo jadi beban.
Kita semua, mungkin, pernah jadi ‘Gregor’ dalam momen tertentu misalnya saat sakit, saat gagal, saat merasa gak dimengerti. Kita takut banget sama momen di mana kita cuma bisa berbisik, tapi yang didengar orang lain cuma ciutan serangga, dan mereka memutuskan untuk mengusir kita.
Gue harap sih, kita semua bisa belajar dari kisah ini. Jangan sampai kita memperlakukan orang yang kita sayang berdasarkan seberapa besar manfaatnya buat kita. Karena kalau nggak, kita juga bisa berubah. Bukan jadi serangga, tapi jadi manusia yang tidak manusiawi yang merayakan kematian orang lain karena merasa terbebas dari beban. Itu, buat gue, jauh lebih horor.










Leave a Reply
View Comments