Kita sering dengar kisah perjuangan awal dakwah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Penuh drama, tantangan, dan penolakan keras. Tapi, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: Kenapa, sih, orang-orang kaya dan berkuasa di Makkah dulu sebegitu bencinya pada Islam?
Jawabannya bukan cuma soal teologi, tapi jauh lebih dalam: psikologi kelas sosial.
Baru-baru ini, saya belajar banyak dari insight yang disampaikan oleh salah satu guru saya saat mengulas Surah Al-Muzzammil. Beliau menjelaskan bahwa penolakan itu punya akar kuat pada obsesi mereka terhadap sesuatu yang disebut Na’ma, yaitu kemewahan, status, dan kekuasaan yang berlebihan. Mari kita bongkar sama-sama.
Ketika Kemewahan Jadi Mata Uang
Coba kita bayangkan masyarakat Makkah 1.500 tahun lalu. Nilai seorang laki-laki tidak diukur dari kebaikan hatinya atau kejujurannya. Status sosial itu seperti kartu kredit: makin tinggi limitnya, makin dihormati. Limit ini ditunjukkan lewat hal-hal yang “wah”: mengadakan pesta yang sangat mewah, pamer kedermawanan yang berlebihan (tapi ujung-ujungnya cuma show off), dan yang paling ekstrem, berapa banyak orang yang berhasil ia taklukkan. Semakin banyak pedang yang dimiliki, semakin tinggi kedudukannya.
Bagi kaum elite ini, kekayaan dan kekuasaan bukan sekadar fasilitas hidup; itu adalah identitas. Itu adalah agama mereka. Mereka beribadah pada harta dan image.
Nah, orang yang sudah berada di kelas atas, psikologinya sederhana: mereka rela bekerja keras untuk naik, tapi mereka tidak akan pernah rela untuk turun. Sedikit saja ada ancaman yang membuat status mereka goyah, mereka akan melawan mati-matian. Dan, tadaa… datanglah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.
Target Ilahi: Menelanjangi Kaum Ulin-Na’ma
Ini bagian yang paling menarik dari Surah Al-Muzzammil. Saat kita membaca Al-Quran, sering kali Allah berbicara secara umum. Namun, di ayat ke-11, ada perintah yang sangat spesifik. Allah berfirman, “Dan biarkanlah Aku (bertindak) terhadap orang-orang yang mendustakan itu, yang memiliki kemewahan hidup…”
Allah tidak hanya bilang “tinggalkan orang-orang kafir itu kepada-Ku.” Tapi, Allah secara eksplisit menyebut mereka sebagai Ulin-Na’ma (orang-orang yang memiliki kemewahan berlebihan). Ini seperti Allah sedang membongkar siapa dalang di balik semua propaganda dan kebohongan yang disebarkan.
Ternyata, sumber fitnah itu bukanlah masyarakat biasa, melainkan para pembuat kebijakan, influencer di masa itu, dan orang-orang superkaya. Mereka yang merasa terancam karena Islam menantang struktur kekuasaan mereka. Jika Islam hanya sekadar agama sampingan, mereka tidak peduli. Tapi, Islam datang sebagai sistem yang merombak total hierarki masyarakat, dan inilah yang membuat mereka kelimpungan.
Ancaman Terbesar Bernama Kesetaraan
Lantas, apa ancaman terbesar yang dibawa oleh Islam? Kesetaraan.
Bayangkan, seorang pemuka Quraisy yang terbiasa dihormati, yang semua orang berdiri saat ia masuk ruangan, yang semua pelayan harus melayaninya. Tiba-tiba, ia diajak masuk Islam. Konsekuensinya: ia harus duduk bersanding dan menganggap setara seorang Bilal bin Rabah, budak yang baru merdeka. Bahkan, Bilal mungkin dianggap lebih mulia darinya karena lebih dulu beriman.
Ego mereka berteriak keras: “Aku setara dengan orang ini? Aku tidak bisa terima!”
Islam datang dan berkata: Mobil mewahmu, jam tangan Rolex-mu, tas branded-mu, semua itu tidak menentukan nilaimu. Satu-satunya yang membuatmu superior hanyalah Taqwa (ketakwaan) dan amalmu.
Bukan hanya itu. Islam menghapus hierarki material yang terbuka untuk umum, dan menggantinya dengan hierarki spiritual yang tersembunyi. Kita tidak tahu seberapa tinggi posisi seseorang di mata Allah. Apakah ia tahajud semalam suntuk atau tidak, hanya Allah yang tahu. Hilangnya pengakuan publik inilah yang paling ditakuti oleh kaum Ulin-Na’ma.
Cek ke Dalam Diri: Apakah Kita Juga ‘Na’ma’?
Pelajaran dari Makkah ini tidak berakhir di abad ke-7. Hari ini, kita masih berjuang melawan psikologi Na’ma. Kita menciptakan kelas-kelas buatan di mana-mana: lingkungan perumahan elit, merek pakaian tertentu, bahkan di komunitas agama pun, kita terkadang menciptakan hierarki berdasarkan label atau afiliasi.
Ketika kita dihadapkan pada ajaran Islam yang bertentangan dengan “kelas” kita—misalnya, ajaran untuk bersikap sederhana padahal kita mampu bermewah-mewah, atau ajaran yang menuntut kita membuang kesombongan akademik—apakah kita rela turun satu atau dua tangga?
Sering kali, kita menolak ajaran itu bukan karena tidak logis, tapi karena ia mengancam status kita di mata manusia. Kita lebih loyal pada image kita daripada pada kebenaran itu sendiri.
Maka, kisah Ulin-Na’ma adalah cermin bagi kita semua. Sekarang, mari kita tanyakan pada diri sendiri: Apa harta, status, atau pangkat yang paling kita takutkan untuk hilang? Di situlah letak ‘berhala’ Na’ma kita, dan di situlah pertarungan iman sejati kita dimulai.










Leave a Reply
View Comments