oleh Fitri Utami
Langit terasa jauh,
tapi entah kenapa aku tetap menatap ke sana.
Mungkin karena di sanalah tenang itu tinggal,
dan di antara kabut yang menggantung, aku tahu —
ada Engkau yang masih mendengar.
Aku pernah berlari
mengejar jawaban dari manusia,
dari logika, dari pengakuan.
Tapi setiap kali kudapatkan,
rasanya tetap kosong.
Seperti meneguk air asin
saat haus yang sebenarnya adalah jiwa.
Kini aku tak lagi sibuk bertanya
tentang benar atau salah.
Aku hanya ingin dituntun,
pelan-pelan,
agar tak tersesat
dalam pikiranku sendiri.
Tuhan…
jika langkahku mulai goyah,
peganglah sebentar.
Jika hatiku terlalu berat untuk percaya,
ringankan dengan kasih-Mu.
Aku lelah melawan arah,
lelah menjadi kuat sendirian.
Bimbing aku kembali,
meski dengan langkah yang kecil,
meski dengan cahaya yang samar,
asal menuju-Mu.
Dan bila malam ini masih panjang,
biarlah aku tetap menunggu —
karena aku tahu,
tak ada gelap
yang bisa sembunyi dari cahaya-Mu










Menyentuh