generus indonesia
Apolo Galeri. Foto: generus

Saat Sejarah Ikut Dicuri dari Louvre

Oleh Tiya Inggriyani

Gaes, pecinta film action pasti udah pernah nonton film tentang pencurian di Museum Louvre, Paris. Nggak nyangka banget ternyata hari minggu kemarin adegan tersebut menjadi real!

Empat menit. Hanya dalam waktu sependek itu, dunia kehilangan delapan potongan sejarah yang tak ternilai. Pada 19 Oktober 2025, Musée du Louvre, ikon kebanggaan Prancis dan salah satu museum paling terkenal di dunia, dibobol dengan cara yang begitu cepat dan terencana.

Para pelaku berpakaian layaknya staf keamanan, menonaktifkan sistem alarm, dan memecahkan kaca pelindung anti-peluru. Dalam sekejap, delapan perhiasan kerajaan yang menyimpan cerita ratusan tahun sejarah lenyap—dan dunia seni terdiam.


Delapan Permata, Delapan Kisah yang Hilang

Yang raib bukan cuma benda berkilau. Setiap perhiasan itu membawa jejak masa lalu—cerita tentang cinta, kekuasaan, dan kebudayaan Prancis.

  • Tiara Safir Queen Marie-Amélie dan Hortense de Beauharnais, simbol keanggunan bangsawan wanita di masa pasca-revolusi.
  • Kalung dan Anting Safir yang melengkapi set kerajaan, dikenal karena keindahan birunya yang langka.
  • Kalung dan Anting Zamrud Empress Marie-Louise, istri Napoleon Bonaparte, yang melambangkan kejayaan kekaisaran Prancis.
  • Reliquary Brooch, bros kuno berhias batu mulia yang dipercaya menyimpan simbol spiritual kerajaan.
  • Tiara dan Bros Busur Besar milik Empress Eugénie de Montijo, saksi era Napoleon III dan perubahan besar di Eropa abad ke-19.

Bahkan, mahkota Empress Eugénie ditemukan kembali dalam kondisi rusak—seakan menjadi simbol betapa rapuhnya warisan sejarah di tangan manusia.

Lebih dari Sekadar Kerugian Materi. Nilai totalnya mungkin mencapai 100 juta dolar AS, tapi uang tidak bisa menebus kehilangan makna di balik benda-benda itu. Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, menyebutnya sebagai “kehilangan sebagian jiwa sejarah Prancis.” Dan mungkin benar—karena ketika artefak sejarah hilang, bukan cuma benda yang lenyap, tapi juga potongan ingatan kolektif manusia.



Refleksi untuk Generasi Muda seperti kita saat ini, di tengah dunia yang serba cepat, kasus Louvre ini seperti tamparan halus:

Apakah kita masih peduli pada sejarah?

Atau kita hanya menatap masa depan tanpa memahami dari mana asal pijakan kita?

Bagi generasi muda Indonesia, cerita ini punya makna yang lebih dalam. Kita juga punya “Louvre” versi kita sendiri—dalam bentuk candi, naskah kuno, batik, hingga kisah para pejuang. Semua itu bukan hanya artefak, tapi bagian dari DNA kebangsaan kita.

Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu. Ia adalah cermin—yang jika dipecahkan, pantulannya tak akan pernah sama lagi.


Ketika Louvre kehilangan perhiasannya, dunia tersadar bahwa menjaga sejarah bukan cuma tugas kurator atau pemerintah—tapi tanggung jawab kita semua.

Karena tanpa ingatan, generasi masa depan hanya akan jadi pengunjung museum yang tersisa—berdiri di depan kaca kosong, bertanya-tanya tentang apa yang pernah ada.

“Sejarah bukan hanya untuk diingat, tapi dijaga—agar generasi mendatang tahu dari mana peradaban mereka berasal.” Karena menjaga sejarah adalah menjaga diri kita dan penerus kita.