Oleh Supartini
Era digital bak mata bermata dua,
dunia terbuka, batas sirna tanpa sisa.
Buah hati—ke mana arah mereka melangkah,
jika setiap layar tak kenal usia?
Anak bagai kendi jernih,
apa yang dituangkan, itulah yang melekat selamanya.
Di sanalah tanggung jawab orang tua
mengukir karakter luhur, cermin keluarga.
Ironis, gawai menjelma nyawa kedua,
erat menggenggam denyut zaman.
Gaya hidup glamor menebar pesona,
menggoda jiwa muda bak bunga merekah.
Namun siapa penggoda di barisan terdepan?
Iblis terkutuk, perusak nurani—
na’udzubillahi min dzalik.
Wahai insan budiman, calon penghuni surga,
peluklah buah hatimu erat-erat,
mutiara hidup, penyejuk mata,
kelak menjadi penerang bagi sesama.
Tanaman indah butuh siraman akhlakul karimah,
maka jadikan rumahmu taman teduh—
tempat tumbuh cinta, karya, dan bahagia,
hingga usia senja, menapaki surga.
Surga dunia seiring surga akhirat,
baiti jannati jadi dambaan hati.
Keluarga laksana tambang emas,
meniti jembatan menuju nikmat abadi,
raudlah riyadlil jannah—
tempat perjumpaan dengan bidadari,
tempat segala kasih tak lagi fana.










Leave a Reply
View Comments