Generus Indonesia
Rekening Dormant Rp 204 Miliar: Alarm Keamanan Digital untuk Generasi Kita. Foto: Lines

Rekening Dormant Rp 204 Miliar: Alarm Keamanan Digital untuk Generasi Kita

Oleh Fitri Utami

Pernah nggak, Sobat Generus, kita punya rekening bank yang udah lama nggak disentuh? Mungkin isinya cuma ratusan ribu atau bahkan kosong, jadi kita biarin aja. Nah, rekening semacam ini disebut rekening dormant. Biasanya pasif, nggak ada aktivitas, dan karena itu dianggap aman-aman aja. Tapi ternyata, justru celah itulah yang jadi sasaran empuk sindikat kejahatan.

Baru-baru ini, publik dikejutkan dengan kasus pembobolan rekening dormant di salah satu bank besar. Nilainya bikin geleng-geleng kepala: Rp 204 miliar lenyap hanya dalam hitungan menit.

“Dana sebesar Rp 204 miliar dipindahkan ke lima rekening penampungan dalam 42 kali transaksi yang hanya berlangsung 17 menit,” kata Helfi dalam konferensi pers di Bareskrim, dikutip dari Kompas.com, Kamis (25/9).

Tujuh belas menit. Sebentar banget, bahkan lebih cepat dari waktu yang kita habiskan buat scroll TikTok sebelum tidur. Fakta ini menunjukkan betapa rapuhnya sistem kalau nggak diawasi. Rekening dormant yang seharusnya sepi, justru dimanfaatkan karena jarang dicek baik oleh pemilik maupun pihak bank.

Kasus ini bukan sekadar angka atau headline berita kriminal. Buat kita, generasi muda yang hidup di era serba digital, ada pesan serius: keamanan finansial nggak boleh disepelekan. Kita mungkin nggak punya miliaran, tapi punya rekening yang kita pakai buat gaji, buat bayar kuliah, atau sekadar jajan kopi kekinian. Dan percayalah, para pelaku kejahatan nggak pandang bulu. Yang mereka incar bukan cuma orang kaya, tapi siapa pun yang lengah.

Masalahnya, kita sering merasa “ah, data gue aman kok” atau “rekeningku kecil, siapa yang mau ambil?”. Padahal di dunia maya, celah sekecil apa pun bisa jadi pintu masuk. Kadang kita sendiri yang kasih jalan lewat kebiasaan asal klik link, sembarangan bagi data pribadi, atau malas mengaktifkan fitur keamanan tambahan.

Sobat Generus, bayangin kalau uang hasil kerja magang, tabungan buat beli motor, atau dana darurat kita tiba-tiba lenyap. Panik pasti. Dari kasus Rp 204 miliar ini, kita belajar kalau dunia digital punya wajah ganda: bikin hidup gampang, tapi juga penuh risiko. Kuncinya ada di kewaspadaan.

Cobalah mulai dari hal sederhana: rajin buka aplikasi bank, meski saldo masih aman-aman aja. Jangan anggap remeh kode OTP atau verifikasi dua langkah. Dan yang paling penting, biasakan hati-hati dengan siapa kita berbagi data. Keamanan digital itu ibarat pagar rumah. Kalau pagarnya bolong, siapa pun bisa masuk, entah pencuri kelas kakap atau sekadar iseng.

Pada akhirnya, kisah rekening dormant ini jadi semacam alarm. Nggak ada yang kebal dari ancaman kejahatan digital. Jadi, mari kita tumbuh sebagai generasi yang bukan cuma melek teknologi, tapi juga bijak dan waspada. Karena menjaga keamanan digital hari ini, sama artinya dengan menjaga masa depan kita sendiri.