Oleh Fitri Utami
Sobat Generus, biasanya kalau dengar kata tepuk, yang kebayang pasti tepuk pramuka, tepuk semangat, atau tepuk tangan pas konser. Tapi pernah dengar belum tentang Tepuk Sakinah?
Nah, ini bukan sembarang tepuk. Tepuk Sakinah adalah inovasi yang diperkenalkan Kementerian Agama (Kemenag) dalam program Bimbingan Perkawinan (Bimwin). Tujuannya sederhana tapi dalam: supaya calon pengantin bisa lebih mudah memahami nilai-nilai keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menjelaskan,“Melalui Tepuk Sakinah, pilar keluarga sakinah lebih mudah diingat dan suasana pembekalan menjadi lebih hidup,” ujarnya dikutip dari laman Kemenag, Kamis (25/9).
Bayangin, biasanya materi tentang keluarga sakinah itu disampaikan lewat ceramah atau buku tebal. Kadang membosankan, kadang bikin ngantuk. Tapi dengan inovasi ini, calon pengantin diajak mengingat lima pilar penting rumah tangga lewat gerakan sederhana: tepuk tangan. Jadi bukan cuma otak yang bekerja, tapi tubuh juga ikut bergerak. Suasana kelas pun jadi lebih cair dan nggak terlalu tegang.
Lima Pilar dalam Tepuk Sakinah
Di balik gerakan sederhana itu, ada lima pesan besar yang jadi pondasi rumah tangga:
- Zawaj: berpasangan, menerima bahwa pernikahan adalah perjalanan bersama, bukan sendiri-sendiri.
- Mitsaqan Ghalizan: janji kokoh, bukan janji main-main, tapi ikatan suci yang harus dijaga seumur hidup.
- Mu’asyarah Bil Ma’ruf: saling cinta, hormat, menjaga, dan berbuat baik. Prinsip ini jadi bekal menghadapi suka-duka rumah tangga.
- Musyawarah: menyelesaikan masalah dengan bicara, bukan dengan amarah.
- Taradhin: saling ridha, ikhlas menerima kekurangan pasangan, dan tetap bersama meski keadaan tidak selalu sempurna.
Kelima pilar ini bukan teori kosong. Justru lewat Tepuk Sakinah, nilainya jadi gampang diingat. Saat konflik muncul, pasangan bisa “teringat tepukannya”, lalu sadar bahwa rumah tangga butuh cinta, musyawarah, dan ridha.
Abu Rokhmad menegaskan, Tepuk Sakinah tidak sekadar ritual seremonial. Ini adalah simbol sekaligus pesan praktis bagi calon pengantin. Pernikahan bukan hanya soal gaun pengantin, dekorasi, atau pesta mewah. Lebih dari itu, pernikahan adalah soal kesiapan lahir dan batin untuk menghadapi realita: perbedaan pendapat, masalah finansial, hingga dinamika kehidupan sehari-hari.
Di titik-titik sulit inilah, Tepuk Sakinah bisa jadi pengingat. Bukan karena gerakannya aja yang simpel, tapi karena nilai yang dibawanya. Seperti mantra kecil yang menyadarkan kembali: rumah tangga dibangun dengan cinta, komitmen, dan ridha, bukan dengan ego semata.
Sobat Generus, generasi kita sering kali sibuk memikirkan resepsi, dari undangan digital, konsep dekorasi kekinian, sampai pilihan musik. Semua itu sah-sah saja. Tapi jangan sampai lupa, inti dari pernikahan adalah kehidupan setelah pesta usai.
Di sinilah Tepuk Sakinah punya arti. Ia mengajarkan kita bahwa fondasi rumah tangga bukan dibangun sekali jadi, tapi dipupuk terus-menerus. Sama seperti kita belajar skill baru, menjaga keluarga pun butuh latihan, kesabaran, dan komitmen.
Jadi, kalau nanti Sobat Generus sudah bersiap melangkah ke pelaminan, jangan hanya pikirkan busana atau fotografer terbaik. Ingat juga lima pilar dalam Tepuk Sakinah: berpasangan, janji kokoh, cinta dan hormat, musyawarah, serta ridha. Karena rumah tangga sakinah bukan tentang bebas dari masalah, melainkan tentang kemampuan untuk melewati masalah bersama-sama.










Leave a Reply
View Comments