generus indonesia
Ilustrasi stoikisme.

Stoikisme dan Islam: Tenang dalam Menghadapi Hidup

Kebanyakan manusia sering buang energi memikirkan hal-hal yang berada di luar kendali. Kita sibuk mengulang-ulang kejadian yang sudah lewat, khawatir berlebihan pada masa depan, atau gelisah karena ulah orang lain. Padahal, baik dalam stoikisme maupun Islam, kunci ketenangan justru terletak pada kemampuan mengatur diri sendiri dan ikhlas menerima takdir.

Prinsip stoik sederhana: yaudah. Kita tidak bisa memaksa pikiran, perasaan, atau kelakuan orang lain agar sesuai dengan standar kita. Sama halnya dalam Islam, kita diajarkan untuk sabar, ridha, dan tawakal—mengendalikan diri sembari meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Stoikisme sangat menekankan pengendalian diri. Mereka percaya hidup akan lebih tenang kalau emosi dan hawa nafsu bisa dikendalikan. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam tentang sabar dalam menghadapi cobaan. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 153: “Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Dalam soal menerima takdir, stoikisme memiliki konsep amor fati atau mencintai takdir. Islam pun mengajarkan qadarullah dan ridha, yaitu menerima segala ketetapan Allah dengan lapang dada. Bedanya, kalau stoik melihatnya sebagai hukum alam, Islam menekankan bahwa semuanya datang dari Allah yang Maha Bijaksana, sehingga penerimaan itu tidak sekadar pasrah, tetapi juga penuh keyakinan pada hikmah di baliknya.

Stoikisme juga menekankan pentingnya fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan, yaitu pikiran dan tindakan, serta tidak membuang energi pada hal-hal di luar kendali. Dalam Islam, hal ini tercermin dalam konsep ikhtiar dan tawakkal. Kita diperintahkan untuk berusaha sebaik mungkin, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Praktiknya bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya ketika dipanggil bos, banyak orang langsung panik dan overthinking. Padahal lebih baik menyiapkan materi meeting atau bahan diskusi. Inilah cara stoik bekerja, dan sejalan dengan Islam yang mengajarkan untuk berusaha dulu baru berserah diri. Ketika menerima kritik, stoikisme mengajarkan untuk memeriksa terlebih dahulu. Kalau benar, berarti kita harus memperbaiki diri, kalau tidak, ya hidup tetap baik-baik saja. Islam pun serupa: jika diingatkan dengan kebaikan maka ambil sebagai nasihat, jika berupa fitnah maka serahkan pada Allah.

Begitu juga ketika kita disalahpahami orang lain. Dalam stoikisme, itu hal biasa dan tidak perlu dibawa emosi. Buya Hamka pernah berkata: “Jangan takut disalahpahami, itu tandanya sedang berjuang dalam hidup.” Artinya, salah paham justru tanda bahwa kita sedang bergerak, bukan sekadar diam mengikuti arus.

Dengan begitu, kita bisa melihat bahwa stoikisme dan Islam memiliki irisan yang kuat: sama-sama mengajarkan pengendalian emosi, kesabaran, penerimaan, dan sikap tawakkal. Bedanya, stoikisme berhenti di level filsafat, sementara Islam memberikan dimensi spiritual yang lebih dalam, yaitu mendekatkan diri kepada Allah. Dengan menggabungkan nilai-nilai ini, hidup akan menjadi lebih tenang, tidak mudah goyah oleh komentar orang, dan tetap kuat menghadapi cobaan.